SYARAH ARBAIN HADITS KE 2

HADITS KEDUA

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذَ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالََ: يَامُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الْإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهَ وَأَنَّّّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً” قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ فَعَجَبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ: فَأَخْبَِرْنِيْ عَنِ اْلإِيْمَانِ. قَالَ: “أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلاَئِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ” قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: “أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ”. قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: “مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ” قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَتِهَا، قَالَ: “أَنْ تَلِدَ اْلأََمَةُ رَبَّتَهَا. وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ، يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ”. ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي: “يَا عُمَرُ! أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِلُ؟” قُلْتُ: الله وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: “فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ”. رواه ومسلم.

Dari Umar Radiyallahu’anhu juga: “Ketika kami duduk di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncullah seorang pria yang sangat putih bajunya dan sangat hitam rambutnya, tak terlihat padanya bekas safar, dan tidak ada seorangpun yang mengenalinya. Kemudian orang tersebut duduk di hadapan Rasulullah, menempelkan lututnya dengan lutut Rasulullah dan meletakkan dua tangannya di paha Rasulullah seraya berkata: “Ya Muhammad kabarkan kepadaku tentang Islam!,
Rasulullah bersabda: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah utusanNya, engkau dirikan shalat, keluarkan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah jika mampu.” Penanya tadi berkata: “Engkau telah benar,”kamipun heran dia yang bertanya dia pula yang membenarkan.
Kemudian berkata: “Kabarkan kepadaku tentang Iman!, Rasulullah menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan engkau beriman kepada hari akhir serta mengimani qadar yang baik dan jeleknya”. Orang tersebut berkata: “Engkau benar”, kemudian berkata: “Kabarkan kepadaku tentang Ihsan!, Rasulullah menjawab: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu”. Orang tersebut berkata lagi: “Kabarkan kepadaku kapan hari kiamat!, Rasulullah menjawab: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”, orang tersebut bertanya lagi: “kabarkan kepadaku tanda-tandanya! Rasulullah menjawab: “Seorang budak melahirkan tuannya, orang-orang yang telanjang kaki dan badan serta miskin berlomba-lomba untuk meninggikan bangunan”. Umar berkata: “Orang itu pun pergi, dan aku pun diam beberapa saat, kemudian Rasulullah berkata: “Wahai Umar tahukah engkau siapa orang yang bertanya tadi?, aku menjawab: “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu”, Rasulullah bersabda: “Dia adalah Jibril datang untuk mengajari masalah agama kalian” (HR. Muslim)[7].

Syarah:
Ini adalah hadits yang agung, telah mencakup seluruh kewajiban amal yang dhahir maupun yang batin, ilmu-ilmu syar’i seluruhnya kembali kepada hadits ini dan tercabang darinya, karena hadits ini mengandung seluruh ilmu sunnah, sehingga seperti induknya sunnah, sebagaimana Al-Fatihah dinamakan Ummul Qur’an karena mengandung seluruh isi al-Qur’an.
Dalam hadits ini ada dalil disyariatkannya memperbagus pakaian dan penampilan serta berpakaian bersih ketika hendak menemui ulama, orang yang mempunyai kedudukan atau hendak menemui raja, karena kedatangan Jibril itu adalah untuk mengajari manusia dengan perkataan, sikap serta keadaannya.
Perkataan dalam hadits ( ( لايرى عليه أثر السفرyang masyhur dengan dhommah huruf ya’ pada kata يرى adalah mabni lima lam yusamma fa’iluhu, sebagian lagi meriwayatkan dengan fathah huruf nun, keduanya benar.
Perkataan dalam hadits “Meletakkan dua telapak tangannya di atas dua paha, dan berkata ya Muhammad” demikian riwayat yang masyhur dan shahih.
Imam Nasa’i meriwayatkan hadits yang semakna dengan itu yakni “Meletakkan dua tangannya di atas dua lutut Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam” dengan demikian hilanglah ihtimal (kemungkinan bermakna lain) dalam lafadz Muslim, karena dalam lafadz Muslim “meletakkan dua telapak tangannya di atas dua paha” lafadz yang muhtamal (lafadz yang kemungkinan bermakna ganda). Dari hadits ini diambil faedah: “Bahwa kata Iman dan Islam itu adalah dua hakikat yang berbeda menurut bahasa ataupun syariat. Inilah hukum asal nama yang berbeda tetapi syariat telah meluaskan pemakaiannya, sehingga salah satunya bisa dipakai untuk menamai yang lainnya.
Perkataan dalam hadits: “Kamipun heran dia yang bertanya dia pula yang membenarkannya” Yang menyebabkan mereka merasa heran adalah karena ilmu yang dibawa oleh Nabi tidak diketahui kecuali darinya, padahal orang ini tidak pernah diketahui bertemu dengan Nabi atau mendengar darinya, tapi ternyata orang tersebut bertanya dengan pertanyaan orang yang alim, muhaqiq (sedang memastikan) dan musaddiq (membenarkan), sehingga mereka menjadi heran.
Perkataan dalam hadits: “Engkau beriman kepada Allah malaikat-malaikat dan kitab-kitab-Nya” Iman kepada Allah adalah membenarkan bahwasanya Allah itu mempunyai sifat-sifat yang mulia dan sempurna, suci dari sifat ketidaksempurnaan, bahwasanya Allah itu satu, Maha Benar, yang sangat mulian, Esa, yang menciptakan seluruh makhluk, berbuat sesuai dengan kehendak dan keinginan-Nya.
Iman kepada malaikat adalah membenarkan bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan, tidak pernah membantah perintah Allah dan mereka selalu mengamalkan perintah Allah.
Iman kepada rasul-rasul Allah adalah membenarkan bahwa mereka jujur dalam menyampaikan berita dari Allah, Allah menguatkan mereka dengan mukjizat yang menunjukkan kebenaran mereka, bahwa mereka menyampaikan risalah Allah, menjelaskan kepada orang mukallaf apa yang Allah perintahkan atas mereka, bahwasanya wajib menghormati mereka dan tidak membedakan salah seorangpun dari mereka.
Iman kepada hari akhir adalah membenarkan akan adanya hari kiamat dan hal-hal yang akan terjadi pada dan setelah hari kiamat seperti dibangkitkannya kembali manusia setelah mati, dikumpulkannya manusia di padang mahsyar, disebarkannya catatan amal, adanya hisab, mizan, shirat, sorga dan neraka – sebagai balasan bagi orang yang berbuat baik dan yang berbuat jelek– dan perkara lainnya yang disebutkan dalam beberapa hadits yang shahih.
Iman kepada takdir adalah membenarkan perkara yang telah disebutkan di atas. Dan kesimpulannya adalah firman Allah:
وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ
“Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan” (As Shafat: 96).
Dan firman-Nya:
إِنَّا كُلَّ شَيْئٍ خَلَقْنَهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya segala sesuatu kami ciptakan dengan taqdir masing-masing” (Al Qamar: 49).
Dan ayat yang semisal dengan ini. Diantara dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Ibnu Abbas:
وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَّضُرُّوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ.
“Ketahuilah apabila umat bersatu untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu, dan jika mereka bersatu untuk memudaratkan engkau, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu, qalam telah diangkat dan lembaran telah kering”.[8]
Madzhab salaf dan imam-imam yang mengikuti mereka telah berkata: Barangsiapa yang membenarkan seluruh perkara ini dengan keyakinan yang kuat tanpa ada keraguan sedikitpun, maka dialah mukmin yang hakiki dan baik pula keyakinannya, dikarenakan bukti-bukti yang kuat ataupun dari keyakinannya yang kuat.
Perkataan dalam hadits tentang Ihsan: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya” kesimpulannya kembali kepada masalah harusnya memantapkan ibadah, menjaga hak-hak Allah dan selalu merasa diawasi oleh-Nya, mengingat keagungan dan kemuliaan Allah ketika beribadah.
Perkataan dalam hadits: (فأخبرني عن أمراتها) dengan fathah huruf hamzah, Amarat artinya tanda-tanda.
Hamba sahaya disini maknanya adalah budak perempuan yang sudah melahirkan, ربتها adalah tuannya, dalam satu riwayat dengan kata. بعلها
Telah diriwayatkan bahwa ada seorang Arab gunung ditanya tentang unta, maka ia menjawab: “Akulah ba’lnya, suami juga bisa disebut ba’l, tapi dalam hadits ini dengan kata ربتها ta’nits.
Para ulama berselisih dalam pengertian kalimat “Hamba sahaya wanita melahirkan tuannya”.
Ada yang menyatakan bahwa nanti kaum muslimin bisa mengalahkan negeri orang kafir sehingga banyak budak, akhirnya jadilah anak budak dari hasil hubungan dengan tuannya seperti kedudukan tuannya karena kemuliaan bapaknya, jika demikian maka yang menjadi tanda hari kiamat adalah berkuasanya muslimin atas orang kafir dan banyaknya mereka menaklukkan negeri kafir hingga banyaklah budak belian.
Ada juga yang menyatakan maknanya adalah sudah rusaknya keadaan manusia, hingga para pemilik budak menjual Ummahatul Aulad (budak perempuan yang telah melahirkan anak dari hasil hubungan dengan tuannya), Ummahatul Aulad tersebut berpindah dari satu tangan ke tangan pembeli lainnya, kadang mungkin dibeli oleh anaknya dalam keadaan tidak merasa bahwa dia itu adalah ibunya. Jika demikian maknanya, maka yang menjadi tanda hari kiamat adalah sudah menyebarnya kejahilan tentang haramnya menjual Ummahatul Aulad.
Ada juga yang menyatakan maknanya adalah banyaknya anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, seorang anak memperlakukan ibunya seperti perlakuannya terhadap budak yaitu merendahkan ibunya, serta mencercanya. Lafadz العالة dengan tanpa tasdid pada huruf lamnya, adalah jama’ (plural) dari kata عائل artinya faqir.
Dalam hadits ini ada nash dimakruhkannya meninggikan dan menghias bangunan jika tidak tidak dibuthkan, telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:
يُؤْجَرُ ابْن آدَمَ فِيْ كُلِّ شَيْئٍ إِلاَّ مَا وَضَعَهُ فِيْ هذَا التُّرَابِ
“Manusia akan diberi pahala dalam seluruh amalannya kecuali yang ia keluarkan pada tanah ini”[9].
Rasulullah wafat dalam keadaan belum pernah meletakkan satu batu di atas batu lainnya atau satu bata di atas bata lainnya yakni: beliau tidak menghias-hias rumahnya, tidak meninggikan ataupun memperindahnya.
Perkataan dalam hadits: “penggembala kambing” beliau mengkhususkan menyebut penggembala kambing karena mereka adalah orang gunung yang paling lemah, maknanya: walaupun mereka lemah dan jauh dari kemungkinan bisa membangun –berbeda dengan pemilik unta yang mayoritas dari mereka bukan orang miskin atau faqir – tapi mereka bisa meninggikan bangunannya pent-.
Perkataan dalam hadits: (فلبثت) telah diriwayatkan dengan huruf ta, yakni Umar Radiyallahu’anhu diam beberapa saat, diriwayatkan pula dengan فلبثتtanpa huruf ta yakni Nabi diam beberapa saat setelah Jibril pergi, dan makna tersebut shahih.
Perkataan dalam hadits مليا dengan tasydid huruf ya’, yakni diam beberapa lama, kondisi seperti itu berulang sebanyak tiga kali, demikianlah dalam riwayat Abu Dawud dan lainnya.
Perkataan dalam hadits: “Dia datang untuk mengajari kalian tentang agama kalian” yakni kaidah –kaidah agama kalian atau pokok-pokok agama kalian. Demikian dikatakan oleh Syaikh Muhyidin dalam syarahnya terhadap hadits ini dalam syarah shahih Muslim.
Yang paling penting dalam hadits ini adalah penjelasan tentang Islam, Iman dan Ihsan serta wajibnya beriman tentang adanya taqdir Allah Ta’ala, beliau menerangkan penjelasan Islam dan Iman dalam hadits ini sangat panjang lebar, beliau membawakan pendapat-pendapat para ulama diantaranya yang ia nukilkan dari Abil Husain yang ma’ruf dengan nama Ibnu Baththal Al Maliki: “Mazhab Ahlus sunnah dari salaful ummah dan pengikut mereka: “Iman itu adalah perkataan dan amalan serta iman itu bisa bertambah dan berkurang, dengan dalil:
لِيَزْدَادُوْا إِيْمَنًا مَّعَ إِيْمَنِهِمْ
“Supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang telah ada)” (Al Fath: 4). Dan ayat-ayat yang semisalnya. Sebagian ulama berkata: pembenarannya itu sendiri tidak bertambah dan tidak berkurang sedangkan Imam Syar’i berpendapat bahwa Iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan hasil-hasilnya dan kekurangannya yaitu dengan amalan-amalan, mereka berkata: Dengan demikian dapat mempertemukan antara dhahir-dhahir nash yang menyatakan ada tambahan Iman dengan asal peletakkan dalam bahasa, apa yang dikatakan mereka walaupun sepertinya benar, namun yang paling benar adalah pembenaran juga akan bertambah dengan banyak melihat dhahir nash. Oleh karena itu Iman mushaddiqin lebih kuat dibandingkan selain mereka yang tidak akan menipu kepada mereka suatu kebodohan, imannya tidak akan goncang ketika ada syubhat, hati mereka terus lapang dan bersinar walaupun situasi silih berganti. Adapun orang lain yang sedang dijinakkan hatinya atau yang sederajat dengan mereka keadaannya tidak demikian. Hal ini tidak bisa diingkari dan tidak diragukan lagi bahwa tashdiq (pembenaran) yang ada pada diri Abu Bakar tidak akan bisa disamai oleh tashdiqnya seorangpun. Oleh karena itu Imam Bukhari berkata dalam kitab shahihnya, telah berkata Ibnu Mulaikah: “Aku bertemu dengan tiga puluh orang shahabat Nabi seluruhnya menghawatirkan kemunafikan atas dirinya, tidak seorangpun yang berkata Iman mereka seperti Imannya Jibril dan Mikail ‘alaihimassalam. Adapun memakai kata Iman atas amalan telah disepakati oleh ahlul haq dan dalilnya banyak tidak terhitung. Allah berfirman:
وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيْعَ إِيْمَنَكُمْ
“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian” (Al Baqarah: 143). Yakni shalat kalian. Telah diceritakan dari Abu Amr bin Sholah ketika menjelaskan hadits “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya dan menegakkan shalat…” kemudian menafsirkan Iman: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya …” beliau berkata: “Ini adalah penjelasan pokok Iman, yaitu tashdiq (pembenaran) dalam batin, dan penjelasan pokok Islam yaitu berserah diri dan tunduk dalam dhahir. Hukum Islam dalam dhahir ada dengan mengucapkan dua kalimah syahadat kemudian ditambahkan kepadanya shalat, zakat, puasa dan haji, karena keempatnya adalah syiar Islam yang paling tampak dan paling agung. Dengan ditegakkannya empat perkara ini menjadi benar pengakuannya kepada Islam. Kemudian kata Iman mencakup juga seluruh tafsir Islam. Dalam hadits ini bahkan mencakup seluruh amalan taat, karena seluruh amalan taat adalah buah dari tashdiq batin yang merupakan pokok Iman.
Oleh karena itu nama Iman yang mutlaq (sempurna) tidak diberikan kepada orang yang melakukan dosa besar atau yang meninggalkan satu kewajiban, karena nama sesuatu secara mutlaq tidak diberikan kecuali kepada yang sempurna dan tidak diberikan kepada sesuatu yang kekurangannya tampak jelas kecuali dengan niat yang lain.
Demikian pula boleh menafikan Iman mutlaq (iman yang sempurna) dari orang seperti ini, sabda Rasulullah:
“لاَيَزْنِي الزَّانِيْ حِيْنَ يَزْنِيْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَيَسْرِقُ السَّارِقُ حِيْنَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Tidaklah seorang yang zina ketika berzina dalam keadaan beriman yang mutlaq, tidaklah seorang pencuri ketika mencuri dalam keadaan beriman yang mutlaq” (HR. Bukhari Muslim).
Nama Islam juga mencakup pokok Iman yakni tashdiq, dan mencakup seluruh pokok ketaatan karena seluruhnya adalah berserah diri kepada Allah, beliau berkata: “kesimpulan dari pembahasan kita adalah kata Iman dan Islam kadang satu makna dan kadang berbeda, seluruh orang beriman adalah muslim tapi orang muslim belum tentu beriman, tashdiq ini cukup dengan taufiq Allah. Nash-nash Al Qur’an dan sunnah yang diriwayatkan dalam masalah Iman dan Islam banyak dipahami keliru oleh orang yang menganut agama tanpa ilmu. Dan apa yang kami tahqiq disini adalah penjelasan yang sesuai dengan mazhab jumhur ulama ahlul hadits dan selain mereka.
Wallahu A’lam.

Syarah Arbain Hadits 1

HADITS PERTAMA

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفص عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ تَعَالىَ عَنْهُ قاَلَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهُِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ. وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ. وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ ِلدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ أمْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلىَ مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. رواه البخاري ومسلم.

Dari Amirul mukminin Abi Hafs Umar bin Khattab Radiyallahu ‘anhu: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari Muslim[4])

Syarah:
Hadits ini telah disepakati keshahihannya, dan kedudukan hadits ini telah disepakati keagungannya dalam Islam. Hadits ini sangat banyak faedahnya. Diriwayatkan oleh Abu Abdillah Al Bukhari dalam banyak tempat di dalam kitabnya, dan Imam Abul Hasan Muslim bin Hajjaj meriwayatkan diakhir kitabul jihad. Hadits ini merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berkata: “Telah ada dalam hadits ini sepertiga ilmu, ucapan ini diriwayatkan oleh Bukhari dan lainnya, dikatakan demikian karena perbuatan hamba terjadi dengan hati, lisan dan anggota badannya. Dan niat adalah salah satu dari tiga bagian ini. Juga telah diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata: “Hadits ini masuk dalam tujuh puluh bab masalah fiqih”. Sekelompok ulama ada yang berkata: “Hadits ini sepertiga ilmu”.
Para ulama juga menganjurkan agar setiap karya tulis hendaknya dimulai dengan hadits ini, diantara ulama yang memulai kitabnya dengan hadits ini adalah Imam Abu Abdillah Bukhari.
Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Semua pengarang buku hendaknya memulai kitabnya dengan hadits ini, untuk mengingatkan thalibul ilmi agar membenarkan niatnya.
Hadits ini jika dilihat dari akhir sanadnya adalah hadits masyhur, tapi jika dilihat dari awal sanadnya adalah hadits gharib, karena tidak ada yang meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali Umar bin Khattab, tidak ada yang meriwayatkan dari Umar kecuali Alqamah bin Abi Waqas, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Alqamah kecuali Muhammad bin Ibrahim attaimi, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim kecuali Yahya bin Sa’ad al Anshari. Kemudian setelah itu menjadi masyhur diriwayatkan oleh lebih dari dua ratus orang dan sebagian besar mereka adalah para imam.
Lafadz إنما untuk hashr (pembatasan): menetapkan yang disebutkan dalam konteks hadits dan menafikan yang selainnya, lafadz ini sebagai pembatas yang mutlaq kadang sebagai pembatas yang khusus, hal ini dipahami dengan adanya qarinah, seperti firman Allah:
إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَهَا
“Engkau hanyalah seorang pemberi peringatan” (An Nazi’at: 45).
Dhahir ayat ini menunjukkan pembatasan tugas Rasulullah hanya sebagai pemberi peringatan, padahal Rasulullah sifatnya tidaklah terbatas itu saja, bahkan dia mempunyai sifat yang banyak dan bagus, seperti pembawa kabar gembira dan lainnya.
Demikian pula firman Allah:
اعْلَمُوْا أَنَّمَا الْحَيَوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan suatu yang melalaikan” (Al Hadid: 20).
Dhahir ayat ini menunjukkan pembatasan jika dilihat dari pengaruhnya, adapun jika dilihat dari hakikat dunia itu sendiri, kadang dunia menjadi satu kebaikan. Ayat ini hanya menunjukkan salah satu pengaruh dunia terhadap mayoritas manusia.
Jika ada lafadz إنما perhatikanlah! Apabila konteks dan maksud pembicaraan menunjukkan pembatasan yang khusus katakanlah demikian, jika tidak maknakanlah dengan pembatasan yang mutlaq. Diantaranya sabda Rasulullah: “Amalan itu tergantung niatnya” yang dimaksud amalan dalam hadits ini adalah amalan syari’ah.
Maknanya: amalan tidak teranggap jika tanpa niat, seperti wudhu, mandi, tayammum demikian pula shalat, zakat, puasa, haji, i’tikaf dan seluruh ibadah. Adapun menghilangkan najis tidak butuh kepada niat karena itu termasuk bab ترك dan bab tark tidak butuh pada niat. Ada juga sekelompok ulama berpendapat sahnya wudhu dan mandi tanpa niat.
Dalam sabda Rasulullah: ”Amalan itu tergantung niat” ada kata yang mahdzuf (dihilangkan). Para ulama ikhtilaf dalam menentukan lafadz yang mahdzuf tersebut, ulama yang mensyaratkan niat dalam ibadah menyatakan: “Sahnya amalan itu dengan niat”, ulama yang tidak mensyaratkan niat menyatakan: “Sesungguhnya sempurna tidaknya amalan itu tergantung niat”.
Sabda beliau: “Sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan” Al Khattabi berkata “kalimat ini memberikan makna khusus berbeda dengan kalimat yang pertama yaitu menentukan amalan dengan niat. Syaikh Muhyidin menyebutkan faidah yang ia sebutkan: “Bahwasanya menentukan amalan dengan niat adalah syarat, kalau seseorang mempunyai kewajiban shalat qadha, dia tidak cukup meniatkan shalat yang terluput, tapi disyaratkan untuk menentukan apakah shalat tersebut shalat dhuhur, ashar atau selain keduanya. Kalaulah tidak ada kalimat kedua (yakni: Sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan) maka kalimat pertama hanya menunjukkan bahwa sahnya amalan itu dengan niat tanpa mewajibkan untuk menentukan niat, atau akan mengesankan demikian. Wallahu A’lam.
Sabdanya: “Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijranya kepada Allah dan rasul-Nya.” Yang telah disepakati oleh ahli bahasa Arab: syarat dan jaza (syarat dan jawab syarat) serta mubtada dan khabar haruslah berbeda. Jawabnya adalah: “Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya” dalam niat dan tujuannya “Maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya” dalam hukum dan syari’at.
Hadits ini diriwayatkan karena ada sebab, para ulama menukilkan bahwa ada seorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah untuk menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais, dia tidak menginginkan keutamaan hijrah, hingga iapun dijuluki “Muhajir Ummu Qais”.[5] Wallahu A’lam.[6]

Enam perkara yang menutup pintu taufiq

Ibnul Qayim menukil ucapan Syaqiq bin Ibrahim:
Pintu taufiq ditutup dalam enam perkara:
1. Tersibukkan dengan nikmat dari mensyukurinya
2. Semangat menuntut ilmu tapi tidah mengamalkannya
3. Tertipu dengan pertemanan dengan orang-orang baik (shalih), padahal tidak beramal sebagaimana amal orang shaleh
4.cepat dalam berbuat maksiat tapi menunda-nunda taubat
5. Duani pergi meninggalkannya tapi dia terus menikutinya
6. Akhiran datang tapi dia berpaling darinya
(Lihat Alfawaid ibnulnQayim)

Kitab Puasa Dari kitab Umdatul Ahkam

– كتاب الصيام
Kitab Puasa

١٨٣- عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لا تقدموا رمضان بصوم يوم أويومين، إلا رجل كان يصوم صوما، فليصمه». رواه البخاري ومسلم.
Dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu : Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam pernah bersabda : “Janganlah kalian puasa mendahului bulan Ramadhan sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang biasa puasa sunnah maka lakukanlah puasa sunnahnya”. HR. Al Jama’ah.

١٨٤- عن عبدالله بن عمر رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إذا رأيتموه فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غم عليكم فاقدروا له». رواه البخاري ومسلم.
Dari Abdullah Bin Umar Radiyallahu’anhu: Aku mendengar Rasulallahu Shalallahu’alaihi wasalam bersabda: “Jika kalian melihatnya ( yakni hilal bulan Ramadhan ) puasalah, jika melihatnya ( hilal bulan Syawal )berbukalah kalian, dan jika kalian tertutup mendung hitunglah( yakni sempurnakan bulan Sya’ban 30 hari )”. Muttafaqun’alaih

١٨٥- عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «تسحروا، فإن في السحور بركة». رواه البخاري ومسلم.
Dari Anas Bin Malik Radiyalallahu’anhu: Rasulallahu Shalallahu’alaihi wasalam bersabda: “Sahurlah karena sahur adalah barakah”.

١٨٦- عن أنس بن مالك، عن زيد بن ثابت رضي الله عنهما قال: تسحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم قام إلى الصلاة.
قال أنس: قلت لزيد: كم كان بين الأذان والسحور؟ قال: قدر خمسين آية. رواه البخاري ومسلم.
Dari Anas Bin Malik Radiyallahu’anhu dari Zaid Bin Tsabit Radiyallahu’anhu: Kami pernah makan sahur bersama Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam, ( kemudian Anas berkata ) : Aku bertanya kepada Zaid : “Berapa selang waktu antara adzan dan sahur ? Zaid menjawab 50 ayat”. Muttafaqun’alaih

١٨٧- أن عائشة وأم سلمة رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يدركه الفجر وهو جنب من أهله، ثم يغتسل ويصوم. رواه البخاري ومسلم.
Dari Aisyah Ummu Salamah Radiyallahu’anhuma: Sesungguhnya Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam masuk waktu shubuh dalam keadaan junub dari jima’, kemudian mandi dan puasa”. Muttafaqun’alaih

١٨٨- عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «من نسي وهو صائم، فأكل أو شرب فليتم صومه، فإنما أطعمه الله وسقاه». رواه البخاري ومسلم.
. Dari Abi Hurairah Radiyallahu’anhu bahwa Nabi bersabda: “Barang siapa yang lupa ketika berpuasa hingga makan dan minum, sempurnakanlah puasanya .Karena Allah lah yang memberinya makan dan minum “. (HR Al-jama’ah kecuali Nasai)

١٨٩- عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: بينما نحن جلوس عند النبي صلى الله عليه وسلم، إذ جاءه رجل فقال: يا رسول الله، هلكت. فقال: «ما أهلكك أو ما لك؟». قال: وقعت على امرأتي وأنا صائم.
وفي رواية: أصبت أهلي في رمضان -. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «هل تجد رقبة تعتقها؟». قال: لا. قال: «فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين؟». قال: لا. فقال: «فهل تجد إطعام ستين مسكينا؟». قال: لا. قال: فسكت النبي صلى الله عليه وسلم، فبينما نحن على ذلك إذ أتي النبي صلى الله عليه وسلم بعرق فيه تمر – والعرق: المكتل -، قال: «أين السائل؟». فقال: أنا. قال: «خذ هذا فتصدق به». فقال: أعلى أفقر مني يا رسول الله؟ فوالله ما بين لابتيها – يريد الحرتين – أهل بيت أفقر من أهل بيتي.
فضحك النبي صلى الله عليه وسلم حتى بدت أنيابه، ثم قال: «أطعمه أهلك». رواه البخاري ومسلم.
الحرة: الأرض، تركبها حجارة سود.

Dari Abi Hurairah Radiyallahuanhu Ketika duduk-duduk disisi Nabi , tiba-tiba datanglah seseorang seraya berkata : “Ya rasullah aku telah binasa, Rasulallah berkata : “Ada apa gerangan Lelaki itu menjawab: “Aku menjimai istriku ketika aku dalam keadaan berpuasa “, dalam satu riwayat: “Aku menjimai istriku dibulan Ramadlan “. Rasullah bersabda: “ Apa kamu mempunyai harta untuk memerdakakan seorang hamba sahaya?”, diapun menjawab: ”Tidak”.
Rasulallah bersabda:”Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”, dia menjawab: “Tidak “. Rasullah berkata: ”Apakah engkau mampu memberi makan 60 orang miskin?”, Dia menjawab: “tidak”. Maka Nabi pun terdiam, ketika kami dalam demikian datanglah Nabi Shalallahu’alaihiwasalam dengan membawa satu wadah korma dan seraya berkata: “Dimana si penanya?”. Penanya tersebut berkata : “Saya”. Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda : “Ambil ini ! kemudian bershadaqahlah ! “. Dia berkata : “Apakah ini diberiakan kepada orang yang paling faqir dariku ya Rasulallah ? tidak ada diantara dua Hurrah ini yang lebih faqir dari keluargaku”. Nabi pun bersabda hingga terlihat gigi serinya : “Berikanlah kepada keluargamu”.HR. Al Jama’ah

٣٣ – باب الصوم في السفر وغيره

١٩٠- عن عائشة رضي الله عنها: أن حمزة بن عمرو الأسلمس قال للنبي صلى الله عليه وسلم: أأصوم في السفر؟ – وكان كثير الصيام -. قال: «إن شئت فصم، وإن شئت فأفطر». رواه البخاري ومسلم.
Dari Aisyah Radiyallahu’anha : Bahwa Hamzah Bin Amr Al Aslami berkata kepada Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam : “Apakah boleh aku puasa ketika safar (dia memang sering puasa)”Rasulallah pun menjawab : “Jika engkau mau puasalah dan jika tidak maka berbukalah”. HR. Al Jama’ah.

١٩١- عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كنا نسافر مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلم يعب الصائم على المفطر، ولا المفطر على الصائم. رواه البخاري ومسلم.
Dari Anas Bin Malik Radiyallahu’anhu : Kami pernah melakukan safar bersama Nabi Shalallahu’alaihi wasalam, orang yang puasa tidak mencela yang berbuka, dan yang berbuka pun tidak mencela yang berpuasa.

١٩٢- عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان في حر شديد، حتى إن كان أحدنا ليضع يده على رأسه من شدة الحر، وما فينا صائم إلا رسول الله صلى الله عليه وسلم، وعبدالله بن رواحة. رواه البخاري ومسلم.
Dari Abu Darda Radiyallahu’anhu : Kami pernah berjalan bersama Nabi Shalallahu’alaihi wasalamdi bulan Ramadhan, ketika hari panas hingga salah seorang diantara kami meletakkan tangannya dikepalanya karena panas, dan diantara kami tidak ada yang berpuasa kecuali Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam dan Abdullah Bin Rawahah. HR. Muslim.

١٩٣- عن جابر بن عبدالله رضي الله عنه قال:كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر، فرأى زحاما، ورجلا قد ظلل عليه، فقال: «ما هذا؟ ». قالوا: صائم. قال: «ليس من البر الصيام في السفر». رواه البخاري ومسلم.
وفي لفظ لمسلم: «عليكم برخصة الله الذي رخص لكم».
Dari Jabir Bin Abdullah Radiyallahu’anhu berkata : ketika Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalamdalam beliau melihat kerumunan manusia yang mengerumuni seseorang yang kehausan, beliau bertanya: “Kenapa dia ? ”. Para sahabat menjawab : “Dia dalam keadaan puasa”. Maka Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda : “Puasa dalam safar tidaklah baik”. Dalam lafadz Muslim : “Hendaklah kalian mengambil rukhsah yang Allah berika atas kalian”.\

١٩٤- عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر، فمنا الصائم، ومنا المفطر. قال: فَنَزَلْنا مَنْزِلاً في يوم حار، وأكثرنا ظلا صاحب الكساء، فمنا من يتقي الشمس بيده.
قال: فسقط الصوم، وقام المفطرون، فضربوا الأبنية، وسقوا الركاب، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ذهب المفطرون اليوم بالأجر». رواه البخاري ومسلم.

١٩٥- عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان يكون على الصوم من رمضان، فما أستطيع أن أقضي إلا في شعبان. رواه البخاري ومسلم.
Dari Aisyah Radiyallahu’anha : Aku punya hutang puasa bulan Ramadhan, dan tidak bisa mengqodhonya kecuali dibulan Sya’ban”. HR. Al Jama’ah.

١٩٦- عن عائشة رضي الله عنها ؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «من مات وعليه صيام صام عنه وليه». رواه البخاري ومسلم.
وأخرجه أبو داود، وقال: هذا في النذر خاصة، وهو قول أحمد بن حنبل.
Dari Aisyah Radiyallahu’anha : Rasulallahu Shalallahu’alaihi wasalam pernah bersabda : “Barangsiapa yang mati dalam keadaan puasa, maka walinya memuasakan untuk mayit”. Dan diriwayatkan dalam riwayat Abu Daud, kemudian dia berkata: “Ini khusus puasa nadzar “, demikianlah pendapat Ahmad Bin Hambal.

١٩٧- عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، إن أمي ماتت وعليها صوم شهر، أفأقضيه عنها؟ قال: «لو كان على أمك دين، أكنت قاضيه عنها؟». قال: نعم. قال: «فدين الله أحق أن يقضى». رواه البخاري ومسلم.
وفي رواية: جاءت امرأة إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقالت: يا رسول الله، إن أمي ماتت وعليها صوم نذر، أفأصوم عنها؟ قال: «أفرأيت لو كان على أمك دين فقضيته، أكان يؤدي ذلك عنها؟». قالت: نعم. قال: «فصومي عن أمك». رواه مسلم.
Dari Abdullah Bin Abbas Radiyallahu’anhuma : Datang seorang laki-laki kepada Nabi Shalallahu’alaihi wasalam seraya berkata : “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku wafat dan dia punya hutang puasa satu bulan”. Maka Rasulallah menjawab : “Kalau ibumu punya hutang apakah engkau akan membayarnya ?”. Dia menjawab : “Ya”. Maka Rasulallah bersabda : ”Hutang kepada Allah lebih harus lagi untuk dibayar”. Dalam satu riwayat, datang seorang wanita kepada Nabi Shalallahu’alaihi wasalam seraya berkata : “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku wafat dan dia punya nadzar untuk puasa, apakah aku harus puasa untuk membayarnya ?”. Maka Rasulallah bersabda : “Bagaimana kalau ibumu punya hutang apakah engkau akan membayarnya ?”.Dia menjawab : ”Ya”. M aka Rasulallah menjawab : “Puasalah untuk membayar hutang ibumu”. HR. Al Jama’ah kecuali Ahmad.

١٩٨- عن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر». رواه البخاري ومسلم.
«وأخروا السحور». رواه أحمد.
Dari Sahl Bin Sa’ad As Sa’idi Radiyallahu’anhu : Bahwa Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam pernah bersabda : “Manusia akan terus dalam kebaikan selama menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur”. HR. Al Jama’ah kecuali Ahmad.

١٩٩- عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إذا أقبل الليل من ههنا، وأدبر النهار من ههنا، فقد أفطر الصائم». رواه البخاري ومسلم.
Dari Umar Bin Khattab Radiyallahu’anhu : Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda : “Jika malam telah datang dari sini dan siang telah pergi dari sini maka orang yang telah berbuka”. Muttafaqun’alaih

٢٠٠- عن عبدالله بن عمر رضي الله عنهما قال: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الوصال، قالوا: إنك تواصل. قال: «إني لست مثلكم؛ إني أطعم وأسقى». رواه البخاري ومسلم.
رواه أبو هريرة، وعائشة، وأنس بن مالك.
Dari Abdullah Bin Umar Radiyallahu’anhu berkata : Rasulallah Sahalallahu’alaihi wasalam melarang Wishal, mereka berkata : “Engkau melakukan Wishal ya Rasulallahu”. Beliau ersabda : ”Aku tidak kalian, aku diberikan makan minum”. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Aisyah, Anas Bin Malik Radiyallahu’anhum,

٢٠١- ولمسلم: عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه: «فأيكم أراد أن يواصل فليواصل إلى السحر».
Dalam riwayat Muslim dari Abu Said Al Khudri Radiyallahu’anhu : ”Barangsiapa yang ingin melakukan Wishal lakukanlah hingga waktu sahur”.Muttafaqun’alaih.

٣٤- باب أفضل الصيام وغيره

٢٠٢- عن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال: أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أني أقول: والله لأصومن النهار، ولأقومن الليل ما عشت، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أنت الذي قلت ذلك؟ ». فقلت له: قد قلته بأبي أنت وأمي .
قال: «فإنك لا تستطيع ذلك، فصم وأفطر، ونم وقم، وصم من الشهر ثلاثة أيام، فإن الحسنة بعشر أمثالها، وذلك مثل صيام الدهر». قلت: فإني أطيق أفضل من ذلك.
قال: «فصم يوما وأفطر يومين». قلت: فإني أطيق أفضل من ذلك.
قال: «فصم يوما وأفطر يوما، فذلك صيام داود عليه السلام، وهو أفضل الصيام».
فقلت: فإني أطيق أفضل من ذلك.
وفي رواية قال: «لاصوم فوق صوم داود، شطر الدهر، صم يوما، وأفطر يوما». رواه البخاري.
وعنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إن أحب الصيام إلى الله صيام داود، وأحب الصلاة إلى الله صلاة داود، كان ينام نصف الليل، ويقوم ثلثه، وينام سدسه، وكان يصوم يوما، ويفطر يوما». رواه البخاري ومسلم.
Dari Abdullah Bin Amr Bin ‘Ash Radiyallahu’anhu berkata : Nabi Shalallahu’alaihi wasalam dikabari bahwa aku pernah berkata : “Demi Allah aku akan puasa di siang hari dan shalat malam selama hidupku”. Rasulallah Shalallhu’alaihi wasalam : “Engkau berkata demikian ?”. Aku pun berkata : ”Aku telah mengucaokannya ya Rasulallah ?”. Maka Beliau bersabda : “Engkau tidak akan mampu melakukannya, puasa dan berbukalah, tidur dan shalat malamlah, puasa tiga hari pada tiap bulannya, karena kebaikkan diganjar 10 kali lipatnya”. Aku berkata : “Aku mampu untuk mengamalkan yang lebih afdhal dari itu”.Beliau pun bersabda : “Puasalah sehari dan bukalah sehari, karena itu adalah puasanya nabi Daud dan puasa yang paling afdhal”. Aku berkata lagi : “Saya mampu melakukan yang lebih dari itu”. Beliau bersabda : “Tidak ada yang lebih utama dari itu”. Dalam satu riwayat beliau bersabda : “Tidak puasa diatas puasa Daud yang setengah jaman puasalah sehari dan bukalah dihari berikutnya”.
Dari Abdullah Bin Amr Bin ‘Ash Radiyallahu’anhu Rasulallahu Shalallahu’alaihi wasalam : “Sesungguhnya puasa yang paling dicintai Allah adalah puasanya nabi Daud, shalat yang paling dicintai Allah adalah shalatnya nabi Daud, tidur 1/2 malam, kemudian shalat 1/3 malam dan tidur lagi 1/6 malam dan puasa sehari dan berbuka dihari berikutnya”. Muttafaqun’alaih.

٢٠٣- عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم بثلاث: صيام ثلاثة أيام من كل شهر، وركعتي الضحى، وأن أوتر قبل أن أنام. رواه البخاري ومسلم.
. Dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu : Kekasihku memberikan wasiat kepadaku dengan 3 wasiat, untuk puasa 3 hari tiap bulannya, untuk shalat Dhuha 2 rakaat dan melakukan shalat Witir sebelum tidur. Muttafaqun’alaih

٢٠٤- عن محمد بن عباد بن جعفر قال: سألت جابر بن عبدالله: أنهى النبي صلى الله عليه وسلم عن صوم يوم الجمعة؟ قال: نعم.
وزاد مسلم: «ورب الكعبة»
رواه البخاري ومسلم.
Dari Muhammad Bin Ja’farBin ‘AbbadRadiyallahu’anhu :Aku pernah bertanya kepada Jabir Bin Abdullah : “Apakah Nabi Shalallahu’alaihi wasalam melarang puasa di hari Jum’at ?”. Beliau menjawab : “Ya”. Dalam riwayat Muslim adatambahan lafadz : “Demi Rabb Ka’bah”.

٢٠٥- عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لا يصمن أحدكم يوم الجمعة، إلا أن يصوم يوما قبله، أو يوما بعده». رواه البخاري ومسلم.
Dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu : Aku pernah mendengar Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalm bersabda : ”Janganlah salah seorang kalian puasa dihari Jum’at, kecuali telah melakukan puasa dihari sebelumnya atau akan puasa dihari berikutnya”. HR. Al Jama’ah kecuali Nasa’i

٢٠٦- عن أبى عبيد مولى ابن أزهر – واسمه سعد بن عبيد – قال: شهدت العيد مع عمر بن الخطاب رضي الله عنه، فقال: هذان يومان نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صيامهما: يوم فطركم من صيامكم، واليوم الآخر الذي تأكلون فيه من نسككم. رواه البخاري ومسلم.
. Dar Abu Ubaidah Maula Zahrah namanya Sahd Bin ‘Ubaid : Aku pernah merayakan Ied bersama Umar Bin Al Khattab Radiyallahu’anhu Maka beliau berkata : “Rasulallah melarang melakukan puasa di dua hari ini (yakni Ied), menjadikan hari berbuka kalian dari hari puasa, dan hari-hari yang kalian gunakan untuk memakan binatang-binatang qurban kalian”.

٢٠٧- عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صوم يومين: النحر، والفطر، وعن اشتمال الصماء، وأن يحتبي الرجل في الثوب الواحد، وعن الصلاة بعد الصبح والعصر.
أخرجه مسلم بتمامه، وأخرج البخاري الصوم فقط.
رواه البخاري ومسلم.
Dari Abu Said Al Khudri Radiyallahu’anhu : Rasulallahu Shalallahu’alaihi wasalam melarangpuasa dihari raya Qurban dan Idul Fitri, dan melarang menyelimuti pakain keseluruh tubuh, melarang seorang pria berihtiba dengan 1 pakain, jugamelarang melakukan shalat setelah Subuh dan Ashar. HR Muslim diriwayatkan pula Bukhari tapi masalah puasa saja.

٢٠٨- عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «من صام يوما في سبيل الله بعد الله وجهه عن النار سبعين خريفا». رواه البخاري ومسلم.
Dari Abu Said Al Khudri Radiyallahu’anhu RasulallahShalallhu’alaihi wasalam pernah bersabda : “Barangsiapa puasa 1 hari dijalan Allah, maka Allah akan menjauhkan dia dari api neraka sejauh 70 Khorif”.

٣٥- باب ليلة القدر

٢٠٩- عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن رجالا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أروا ليلة القدر في المنام في السبع الأواخر، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أرى رؤياكم قد تواطأت في السبع الأواخر، فمن كان منكم متحريها فليتحرها في السبع الأواخر». رواه البخاري ومسلم.
Dari Abdullah Bin Umar Radiyallahu’anhu : Seorang sahabat Nabi Shalallahu’alahi wasalam pernah melihat lailatul Qadar didalam mimpinya ditujuh hari terakhir bulan Ramadhan, maka Rasulallahu Shalallahu’alaihi wasalam bersabda : “Aku lihat Lailatul Qadar sesuai dengan mimpi kalian yakni ditujuh hari terakhir, barangsiapa diantara kalian ingin mencarinya, carilah ditujuh hari terakhir”. Muttafaqun’alaih.

٢١٠- عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر». رواه البخاري ومسلم.
Dari Aisyah Radiyallahu’anha : Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam pernah bersabda : “Carilah lailatul Qadar dihari yang ganjil pada 10 hari terakhir”. HR. Bukhari

٢١١- عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعتكف في العشر الأوسط من رمضان، فاعتكف عاما، حتى إذا كانت ليلة إحدى وعشرين – وهي الليلة التي يخرج من صبيحتها من اعتكافه – قال: «من اعتكف معي فليعتكف في العشر الأواخر، وقد أريت هذه الليلة ثم أنسيتها، وقد رأيتني أسجد في ماء وطين من صبيحتها، فالتمسوها في العشر الأواخر، والتمسوها في كل وتر».
فمطرت السماء تلك الليلة، وكان المسجد على عريش، فوكف المسجد، فأبصرت عيناي رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلى جبهته أثر الماء والطين من صبح إحدى وعشرين. رواه البخاري ومسلم.
Dari Abi Said Al Khudri Radiyallahu’anhu : Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam pernah melakukan ‘Itikaf disepuluh hari pertengahan bulan Ramadhan, kemudian pada satu tahun kemudian dia ‘Itikaf dan ketika malam ke 21 yakni ketika keluar disubuh harinya beliau bersabda : “Barangsiapa yang mau ‘Itikaf ‘Itikaflah di 10 hari terakhir, karena aku telah melihat malam ini atau aku dilupakannya, sungguh aku telah mimpi sujud di air….. di subuh harinya, carilah di 10 hari terakhir, carilah dimalam-malam ganjil”. Hujan pun turun dari langit di malam tersebut, masjid terbuat diatas Arsy. Hujan pun turun dari atas atap, aku melihat dua mata Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam, diwajahnya ada bekas air dan tanah ketika waktu subuh ke 21”. HR. Al Jama’ah kecuali Ahmad dan Nasa’i.

٣٦ – باب الإعتكاف

٢١٢- عن عائشة رضي الله عنها: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعتكف في العشر الأواخر من رمضان، حتى توفاه الله تعالى، ثم اعتكف أزواجه بعده. رواه البخاري ومسلم.
وفي لفظ: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان، فإذا صلى الغداة جاء مكانه الذي اعتكف فيه.
وعن عائشة رضي الله عنها: أنها كانت ترجل النبي صلى الله عليه وسلم وهي حائض، وهو معتكف في المسجد، وهي في حجرتها، يناولها رأسه. رواه البخاري ومسلم.
وفي رواية: وكان لا يدخل البيت إلا لحاجة الإنسان. رواه مسلم.
وفي رواية: أن عائشة قالت: إني كنت لأدخل البيت للحاجة والمريض فيه، فما أسأل عنه إلا وأنا مارة. رواه مسلم.
Dari Aisyah Radiyallahu’anha : Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam ‘Itikaf disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga wafat. Setelah itu istri-istrinya pun ber’itikaf. Dalam satu lafadz : “Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam melakukan ‘Itikaf disetiap bulan Ramadhan jika selesai shalat subuh beliau mendatangi tempatnya ‘Itikaf”. HR. Al Jama’ah kecuali Ibnu Majah dan Tirmidzi.
. Dari Aisyah Radiyallahu’anha beliau pernah menyisir Nabi ketika haid dalam keadaan Nabi berada tempat ‘Itikafnya dan dia dikamarnya. Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam menyodorkan kepalanya kepada Aisyah. Dalam stu riwayat : Beliau tidak masuk rumah kecuali untuk satu kebutuhan manusia. Dalam riwayat lain Aisyah berkaa : “Dulu aku tidak masuk rumah kecuali untuk satu keperluan, ketika ada orang saki aku menengok, tidak menanyakan kecuali sambil berjalan. HR. Al Jama’ah.

٢١٣- عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: قلت: يا رسول الله، إني كنت نذرت في الجاهلية أن أعتكف ليلة – وفي رواية: يوما – في المسجد الحرام. قال: «فأوف بنذرك».
ولم يذكر بعض الرواة: «يوما»، ولا «ليلة». رواه البخاري ومسلم.
Dari Umar Bin Khattab Radiyallahu’anhu : Aku pernah berkata kepada Rasulallah : “Wahai Rasulallah ketika jaman jahiliyyah aku bernadzar untuk ‘Itikaf selama satu malam”.Dalam satu riwayat : “Selama satu malam di Masjidil Haram”. Mka Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda : “Tunaikanlah nadzarmu”.
٢١٤- عن صفية بنت حيي رضي الله عنها قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم معتكفا في المسجد، فأتيته أزوره ليلا، فحدثته، ثم قمت لأنقلب، فقام معي ليقلبني – وكان مسكنها في بيت أسامة بن زيد -، فمر رجلان من الأنصار، فلما رأيا رسول الله صلى الله عليه وسلم أسرعا في المشي، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «على رسلكما، إنها صفية بنت حيي. فقالا: سبحان الله يا رسول الله، فقال: إن الشيطان يجري من ابن آدم مجرى الدم، وإني خفت أن يقذف في قلوبكما شرا – أو قال: شيئا -». رواه البخاري ومسلم.
وفي رواية: أنها جاءت تزوره في اعتكافه في المسجد في العشر الأواخر من رمضان، فتحدثت عنده ساعة، ثم قامت تنقلب، فقام النبي صلى الله عليه وسلم معها يقلبها، حتى إذا بلغت باب المسجد عند باب أم سلمة …، ثم ذكره بمعناه. رواه مسلم.
Dari Shafiyah Bin Huyai Radiyallahu’anha : Rasulallah Shalallahu’alaihi wasalam pernah ber’itikaf aku pun datang menjenguknya dimalam hari. Aku bercakap-cakap dengannya. Ketika aku mau kembali, beliau berdiri untuk mengantarku pulang. Ketika sampai didepan rumah Usamah Bin Zaid, lewatlah dua pemuda Anshar, ketika melihat Rasulallah keduanya berjalan dengan cepatnya, maka Rasulallahu bersabda : “Tenaglah dia adalah Shafiyah Bin Huyaiy”. Keduanya berkata :”Subhanallah Ya Rasulallah”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya Syaithan beredar dibumi adam dengan peredaran darahnya aku khawatir akan terbetik pada hati kalian kejelekan atau perkataan beliau lainnya”. Dalam satu riwayat :Shafiyah datang menjenguk Nabi yang sedang ‘itikaf di masjid pada sepuluh trakhir bulan Ramadhan, berbincang0bincang dengannya beberapa saat, dan ketika dia mau kembali Nabipun berdiri untuk mengantarnya hingga sampai pintu masjid dekat pintu Ummu Salamah, kemudian menyebutkan maknanya. HR. Al Jama’ah kecuali Tirmidzi.

Bahaya Medsos

EFEK NEGATIF BERMEDSOS

Tidak dipungkiri ada banyak manfaat yang kita dapat dengan adanya media sosial di tengah-tengah kita sekarang ini.
Dengan adanya medsos, kita mudah mengumumkan kajian, bertanya tentang ilmu, grup ahlusunnah yang tidak dipungkiri memberikan banyak faedah.

Namun, yang namanya kemajuan tehnologi, ibarat pisau bermata dua.
Medsos Bermanfaat bagi yang bisa menggunakannya dengan baik, akan merusak banyak orang yang tidak memperhatikan rambu-rambu syariat, sayangnya banyak oang yang terjatuh dalam pelanggaran nilai-nilai agama tatkala aktif dalam media sosial.
Mereka tidak sadar hal tersebut bisa mengancam keselamatan aqidah, manhaj dan akhlaknya.

Pembaca yang budiman, rahimakumullah
Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengingatkan 7 aktifitas bermedsos yang melanggar nilai-nilai ajaran agama kita, baik yang terkait denqan aqidah, manhaj, muamalah atau adab serta akhlak.
Perlu di ketahui bilangan 7 ini bukanlah batasan, karena masih banyak lagi perkara yang jjuga menyelisihi bimbingan syariat.
Saya sebutkan diantaranya:
1. Tidak selektif dalam mencari ilmu di dunia maya. Di dunia nyata, dikesehariannya mungkin dia terlihat selektif memilih majlis. Tapi didunia maya:
– Ikut kajian via medsos yang tidak jelas siapa nara sumbernya atau bahkan dia tahu bahwa nara sumber adalah seorang hizbi.
– Ikut gup-grup WA, chanel yang tidak jelas bahkan tahu itu milik hizbiyin
– Bahkan ada yang merasa aman mengunjungi situs2 hizbiyin,

Lupa akan bimbingan salaf:
Ilmu adalah agama, telitilah oleh kalian siapa orang yang kalian ambil ilmunya

Wahai saudaraku, jangan merasa aman dari fitnah.ingat ucapan salaf:
Hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar

2. Tidak selektif memilih teman. Didunia nyata, dikesehariannya dia pandai memilih teman, namun ketika di dunia maya, dia berkawan dan berhubungan dengan semua orang.
Dia lupa dengan apa yang telah dikajinya:
– Bagaimana penyesalan seorang yang salah dalam memeilih teman

– Bahwasanya teman sangat berpengaruh pada agama dirinya
(Seorang diatas agama temannya, maka hendaknya meneliti siapa yang dijadikan temannya)

3. Tidak selektif dalam menukil, kurang tatsabut dan tidak memikirkan maslahah dan mafsadah nukilan dia.
Lupa akan ancaman:
Cukuplah sebagai dosa ketika seorang menyampaikan semua yang didengarnya
– Dia tidak tatsabut keabsahan berita yang dinukilnya
– Tidak meneliti sumber nukilan yg di sharenya, dia tak sadar kadar menghasung saudaranya ke web hizbiyin dan munharifin
– Dia tidak menimbang maslahah dan mafsadah yang muncul akibat tulisan dan postingannya.

4. Meninggalkan bimbingan Nabi yang kita cinta
“Barang siapa yang berimaan kepada Allah hendaknya berkata yang baik atau diam”
Tidak sedikit terjadi melalui medsos:
Jidal (debat kusir)
Sukhriyah (merendahkan orang lain)
Istihza (olok-olok)
Yang lebih menyedihkan lagi, di dunia medsos, bermunculannya orang-orang yang lancang, berani berkomentar dalam masalah2 besar, yang diansendiri sebetulnya tidak mememahaminya

Wahai saudaraku hati2 dari abu syibrin

5. Tasahul dalam masalah gambar makhluk hidup
Ini musibah yang sangat menyedihkan.
Dengannya adanya medsos banyak orang lupa apa yang telah di ilmui.
Selfie, menyebar foto2 yang tidak dibutuhkan,
Jauhkan para akhwat dari sebab tersebarnya wajah mereka
Ingatlah saudaraku
Orang yang paling dahsyat azabnya adalah yang meniru ciptaan Allah

6. Tasahul dalam berhubungan dengan lawan jenis
Ini pun termasuk mukhaalafah yang dianggap biasa.
Di dunia nyata mungkin saling menjaga, tapi di dunia maya dengan bebasnya berhubungan dengan lawan jenis yang bukan mahram.
Wahai saudaraku
Fitnah wanita sangatlah dahsyat
Nabi kita berkata:
“Tidaklah aku tinggalkannsetelahku fitnah yang paling bbermudharat bagi laki-laki selain wanita”
Rasululullah bersabda:
“Takutlah kalian terhadap dunia, dan takutlah (fitnah) wanita…”

Saudaraku
Orang bahagia adalah bisa mengambil pelajaran dari orang lain

Ingatlah
Betapa banyak rumah tangga hancur, sebabnya?
Medsos punya andil yang signifikan.

7. Rusaknya adab bermajlis
Di majlis sibuk dengan hp
Di majlis meusyawarah sibuk mengetik di hp
Sedang duduk bersama, masing2 sibuk dengan dunia mayanya, yang satu tidak mengindahkan ucapan temannya.
Saudaraku
Takutlah kepada Allah
Hindarilah fitnah sejauh-jauhnya, sungguh keselamatan hati tidak tertandingi apapin jua
Tawadhulah
Ketahuilah kadar diri kita

Mudah-mudahan kita senantiasa diberi taufiq dan pertolongnaNya

Terapi Tathayur

Jika kita telah tahu bahwa tathayur adalah perbuatan syirik, maka seorang muslim haruslah berusaha menjauhkan dirinya dari tathayur.diantara usaha yang bisa dia lakukan adalah:
Hendaknya memahami bahayanya tiyarah.tiyarah menunjukkan kurangnya akal, rusaknya pandangan dan penyimpangan dari jalan yang lurus karena tiyarah adalah kesyirikan satu diantara sekian makar syaithan
Mujahadah.maknanya bersungguh dalam usaha menghilangkan tiyarah yang ada dalam jiwanya terus melawannya hingga hilang tiyarah secara total
Iman kepada qada dan qadar.yakin bahwa apa yang akan menimpanya pasti akan mengenainya dan sesuatu yang tak ditakdirkan mengenainya tak akan pernah menimpanya
Berbaik sangka kepada Allah.yakin bahwa Allah menetapkan sesuatu dengan penuh keadilan, rahmat dan himahNya
Melanjutkan niatan yang ada dihatinya, jangan menoleh sedikit
Berdoa dengan doa-doa yang syar’i
Tawakal kepada Allah.
Syaikh shalih Alfauzan menyatakan ini adalah perkara pokok dalam menghilangkan tatayur.kemudian dia hendaknya melanjutkan amalan atau kegiatan yang hendak ia lakukan kemudian yang ketiga dia berdoa dengan doa-doa yang masyru’ (Lihat i’anatul mustafid)
Minta perlindungan kepada Allah.karena tiyarah termasuh bisikan syaithan.
[وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنْ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ] (فصلت: 36).
Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS Fushilat:36)

Tathoyur

Makna tathayur
Syaikh Muhamad bin Shalih Utsaimin berkata: Tatayur adalah beranggapan sial dengan sesuatu yang terlihat, terdengar atau sesuatu yang maklum.
Yang terlihat seperti terbangnya burung
Yang terdengar seperti suara burung dan sejenisnya
Yang maklum yakni sesuatu yang tidak terdengar dan tidak terlihat, seperti beranggapan sial dengan hari tertentu, dengan bulan tertentu dan lainnya.
Seorang yang bertathayur telah menyelesihi perkara tauhid dari dua sisi:
Dia memutuskan hawa nafsu tawakalnya kepada Allah.dan bersandaar kepada guru-guru mereka yang bertaubat
Bergantung, yakni menggantungkan hati kepada sesuatu yang haram.
(diringkas dari Al qaulul mufid syarah kitab attauhid)
Syaikh Abdurahman bin Hasan berkata: “…tiyarah (tathayur) adalah syirik karena padanya menggantungkan hati kepada selain Allah”(fathulmajid)

Dalil haramnya tathayur
Banyak dalil yang menunjukkan haramnya tatayur. bahkan tatayur adalah satu macam kesyirikan.
Rasulullah berkata:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ، ثَلاَثًا
“Tiyarah adalah syirik, tiyarah adalah syirik…(beliau ucapkan tiga kali)”(HR abu Daud:3910.dishahihkan syaikh Albani)
Beliau juga bersabda:
لاََ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ.
“Tidak ada penyakit menular, tidak ada tiyarah, hamah, dan tidak ada pula shafar”(HR Bukhari:5757)
Makna hadits:
Syaikh Abdurahman bin Hasan berkata: hadits ini jelas menunjukkan haramnya tiyarah, dan tiyarah adalah syirik karena padanya menggantungkan hati kepada selain Allah.
Syaikh Ibnu Utsaimin juga berkata:
Tatayur menjadi syirik besar jika seorang yang bertatayur meyakini perkara yang dia jadikan sarana tatayur bisa berbuat dan melakukan kejelekan dengan sendirinya.jika dia hanya yakini sebagai sebab saja maka hukumnya adalah syirik kecil.

Iman tentang adanya sorga dan neraka

Iman tentang adanya sorga dan neraka adalah satu prinsip dalam akidah ahlus sunnah waljama’ah.
Imam Ahmad berkata:
Sorga dan neraka adalah dua makhluk Allah yang telah diciptakan, sebagaimana datang dari Rasulullah:
Aku masuk ke sorga akupun melihat istana disana, Aku juga melihat alkautsar
dan Aku lihat ke sorga, akupun bisa melihat bahwa kebanyakan penduduk sorga adalah ini, dan aku lihat neraka dan aka lihat kebanyakan penghuninya adalah ini (yakni wanita-pent.).
Barangsiapa yang menyangka (berpendapat) keduanya belum ada saat ini berarti dia telah mendustakan Al Quran dan aku kira orang tersebut tidaklah mengimani adanya sorga dan neraka. (Lihat Ushulus sunnah)
Imam Thahawi berkata:
Sorga dan neraka adalah dua makhluk yang telah diciptakan, tidak akan punah dan tidak hancur.(Aqidah thahawiyah)
Ibnu Abil Izzi berkata:
Ahlusuunnah telah sepakat bahwa sorga dan neraka adalah dua makhluk yang telah ada sekarang (Syarah Thahawiyah)

Akibat buruk pertemanan

Akibat Buruk teman yang jelek
Akibat buruk salah memilih teman sangatlah banyak, diantara yang mungkin bisa kita sebutkan:
Merusak aqidah dan manhaj, sebagaimana terjadi pada Imran bin khithan
Imam Adz dzahabi menukil ucapan Muhamad bin Sirin:
Imran menikahi seorang wanita khawarij, dia berkata: Aku akan mengembalikannya (kepada jalan ahlussunnah-pen), ternyata yang terjadi justru wanita khawarij ini yang memalingkan Imran kepada madzhab khawarij.(Siyar a’lamunnubala).
Berteman dengan orang jelek sebab su’ul khatimah; mendapatkan akhir hidup yang jelek. Lihatlah kisah Abu Thalib
Syaikh shalih alfauzan berkata:
Dalam hadits ada peringatan bahaya teman yang jelek, karena yang menyebabkan Abu Thalib mati dalam keadaan kafir adalah masukan dua orang yang menghasutnya (yakni Abu Jahal dan Abdullah bin Abi umayah, yang ketika itu Abdullah bin abi umyah masih musyrik-pen).(I’anatul mustafid syarah kitab tauhid).
Berteman dengan orang-orang jelek, akan menyebabkan kelalaian dari dzikir kepada Allah dan mengikuti hawa nafsu.
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاه
“Dan janganlah engkau taat kepada orang yang kami lalaikan kalbunya dari mengingat kami dan mengikuti hawa nafsunya..”
Akan mendatangkan penyesalan dihari kiamat, sebagaimana dalam ayat-ayat diatas
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)
“Pada hari dimana seorang yang dhalim mengigit kedua tangannya dan berkata:” Aduhai seandainya aku mengambil jalan bersama rasul. Aduhai celakalah aku, kalaulau seandainya dulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman. Dia telah menyesatkanku dari kebenaran setelah datang kepadaku, dan syaithan memang senantiasa hendak menghinakan manusia”(QS Al Furqan:27-29).
Akan dikumpulkan bersama orang jelek dihari kiamat, karena seorang akan bersama di cintainya dihari kiamat
Rasulullah bersabda:
“Seorang akan bersama orang yang dicintainya di hari kiamat nanti” (HR Bukhari )
Membantu berbuat maksiat dan meninggalkan amalan takwa dan ketaatan
Terhalang dan tidak bersemangat beramal shaleh
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (36) وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُون
Barang siapa yang berpaling dari mengingat Ar Rahman, maka kami biarkan syaithan menyesatkannya dan menjadi temannya. Dan sungguh para syetan tersebut menghalangi dari jalan, dalam keadaan mengira mereka dia tas petunjuk”(QS Ad Dzuhuruf:36-37)
Akan mendatangkan sikap menganggap remeh perbuatan maksiat
Menyebabkan Kesempitan dikehidupan dunia
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
Barangsiapa yang berpaling dari mengingat Allah, maka dia akan merasakan kehidupan yang sempit, dan kamikan mengumpulkannya di hari kiamat nanti dalam keadaan buta” (QA Thaha: 124)
Menjadi sebab disebut-sebut dengan kejelekan
Berteman dengan orang jelek adalah jalan menuju neraka
Syaikh Abdurahman Assi’di berkata:
“oleh karena itu diantara nikmat Allah yang agung adalah diberi taufik mendapatkan teman yang baik, dan diantara hukuman bagi seorang hamba adalah dengan di beri musibah memiliki teman yang jelek. Berteman dengan teman yang baik akan menghantarkan ke sorga dan teman jelek akan menghnatarkan ke tempat terendah (yakni neraka). (Mujtana fawaid dakwiyah watarbawiyah)

Seputar Puasa Ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan

1. BulannRamadhan adalan bulan yang diturunkan padanya AlQuran

2. Bulan ramadhan adalah bulan yang terdapat padanya malam lailatul qadar

3. Bulannramadhan adalah bulan yang diwajibkan padanya puasa satu bulan yang mana merupakan salah satu rukun Islam

4. Bulan ramadhan adalah bulan dibelenggu padanya syaithan