Syarhus sunnah Albarbahary

Ketahuilah Islam adalah sunnah dan sunnah adalah Islam, tidak akan tegak salah satunya kecuali bersama yang lain.

Diantara perkara sunnah adalah terus bersama jama’ah, barang siapa yang membenci Aljama’ah dan berpisah darinya maka dia telah melepas ikatan Islam dari lehernya dan dia dia menjadi sesat menyesatkan.

Pondasi yang dibangun diatasnya Aljama’ah adalah para shahabat nabi Muhamad shalallahualaihi wasallam, merekalah ahlussunnah waljama’ah.barang siapa yang tidak mengambil dari mereka telah sesat dan melakukan kebidahan, semua bidah adalah sesat dan kesesatan beserta pelakunya di neraka

Berkata Umar bin Khattab: “Tidak ada udzur (alasan) bagi seorang dalam melakukan kesesatan yang dia anggap sebagai petunjuk, juga tidak ada udzur baginya ketika meninggalkan petunjuk karena menyangkanya sebuah kesesatan.Dikarenakan perkara-perkara (syariat) telah dijelaskan, hujah-hujah telah ditetapkan, hingga telah terputus udzur, karena Assunnah dan aljamaah telah memantapkan semua perkara agama dan telah jelas bagi manusia, maka kewajiban manusia adalah alittiba’ (mengikutinya).

Ketahuilah rahimakallah, Agama hanyalah datang dari Allah, tidak diletakkan pada akal-akal dan pendapat manusia.Ilmunya hanya dari Allah dan rasulNya, maka jangan kau mengikuti sesuatu dengan hawa nafsumu nanti engkau akan lepas dari agama dan keluar dari Islam, karena tidak ada lagi alasan bagimu, karena Rasulullah telah menjelaskan sunnah kepada umatnya dan menerangkan kepada para shahabatnya merekalah aljama’ah, merekalah assawul a’dham, assawadul a’dham adalah alhaq dan para pengikutnya, barang siapa yang menyelisihi para shahabat rasulullah dalam perkara agama ini walau sedikit maka telah terjatuh dalam kekufuran

Ketahuilah, bahwasanya tidaklah manusian mengada-adakan kebidahan kecuali akan mereka akan meninggalkan perkara sunnah yang semisalnya, maka jauhilah perkara-perkara baru dalam agama, karena semua perkara baru dalam agama adalah bidah, dan semua bidah dan pelakunya di neraka

Hindarilah perkara-perkara bidah walaupun kecil, karena bidah yang kecil itu akan berulang dan menjadi besar, demikianlah semua bidah di umat ini semuanya berawal kecil menyerupai alhaq hingga tertipulah orang yang masuk dalam kebidahan tersebutkemudian tidak mampu keluar darinya akhirnya jadilah bidah tersebut seperti agama yang seorang beragama dengannya yang menyelisihi sirathalmustaqim, akhirnya ia pun keluar dari Islam.

Lihatlah rahimakallah, (lihatlah) semua orang yang kamu dengar ucapannya dari orang-orang di masamu secara khsusu, jangan terburu-buru masuk dalam satu perkara sampai kamu bertanya dan melihat apakah telah salah shahabat menyatakan demikian atau apakah ada seorang dari ulama berkata demikian, bila engkau mendapatkan satu atsar dari mereka maka berpegang teguhlah dengannya, jangan kau lewatkan karena perkara lain dan jangan memilih sesuatu diatasnya sesuatu, karena jika demikian kamu akan di neraka”

Bersambung…….
(Diterjemah oleh Abdurahman Mubarak Ata)

Akibat Buruk Maksiat

Ketahuilah, maksiat memiliki pengaruh yang jelek, bermudharat bagi kalbu dan badan, di dunia dan akhirat, tidak ada yang tahu berapa banyak akibat buruk maksiat kecuali Allah Ta’ala.
Diantara akibat buruk maksiat adalah:
1. Terhalang dari ilmu
Ilmu adalah cahaya yang berikan dalam kalbu, adapun maksiat adalah perkara yang akan memadamkan cahaya.
Ketika Imam Syafi’i Syafi’i duduk belajar di hadapan Imam Malik dan membaca ilmu kepadanya, Imam Malik kagum akan kecerdikan, kecerdasan dan sempurnanya pemaham Syafi’i, maka Imam Malik berkata:
“Aku melihat Allah telah memberikan cahaya di hatimu, janganlah kau padamkan dengan maksiat”.
Imam Syafi’i berkata:
Aku pernah mengadu kepada waqi’ akan jeleknya hafalanku
Maka beliau membimbingku untuk meninggalkan maksiat
Beliau berkata: “Ketahuilah bahwasanya ilmu adalah karunia
Dan karunia dari Allahbtak akan diberikan kepada seorang yang maksiat”

2. Terhalang dari rezeki
Sebagaimana takwa kepada Allah akan mendatangkan rezeki, maka meninggalkan takwa mendatangkan kefaqiran

3. Keterasingan yang dirasakan oleh seorang yang berbuat maksiat antara dia dengan Allah, walau seluruh kelezatan dunia terkumpul semuanya tetap tak akan bisa mengalahkan rasa keterasingan ini.namun tentunya hal seperti ini hanya dirasa oleh orang-orang yang kalbunya hidup.kata pepatah:
“Melukai seorang yg telah mati tak akan menyakitinya”

4. Keterasingan yang dia rasakan diantara manusia sekitarnya, terutama dengan orang-orang yang baik.dia akan merasakan asing dari orang-orang baik, semakin kuat rasa keterasingan ini menyebabkan dia semakin jauh dari orang baik, hingga dia terhalang dari barokah mengambil ilmu dan kebaikan dari mereka, dan justru semakin dekat dengan hizbu syaithan

5. Mendapatkan kesulitan-kesulitan dalam urusannya

Bersambung ….
(Dinukil, diringkas dan diterjemah oleh Abdurahman Mubarak Ata dari kitab “Addau waddawau” karya Ibnul Qayyim rahimahullah)

Hadits-hadits tambahan Arbai’n dari Ibnu Rajab (43-50)

TAMBAHAN DARI
IBNU RAJAB

HADITS KEEMPAT PULUH TIGA

عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم: “أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا، فَمَا أَبْقَتِ الفَرَائِضُ، فَلأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ”. رواه البخاري ومسلم.
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berikanlah warisan kepada orang yang berhak. Jika masih ada tersisa, maka diberikan kepada laki-laki yang paling utama (paling dekat dengan mayit)”

HADITS KEEMPAT PULUH EMPAT

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “الرَّضَاعَةُ تُحَرِّمُ مَا تُحَرِّمُ الْوِلاَدَةُ”. رواه البخاري ومسلم.
Dari Aisyah Radhiallahu ‘anha Dari nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Susuan bisa mengharamkan seperti halnya kelahiran”

HADITS KEEMPAT PULUH LIMA

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّهِ أَنّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم عَامَ الْفَتْحِ وَهُوَ بِمَكَّةَ يَقُولُ: “إنّ اللّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ” فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ، فَإِنَّهُ يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ، وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ، وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النّاسُ؟ قَالَ: “لاَ. هُوَ حَرَامٌ” ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ ذَلِكَ: “قَاتَلَ اللّهُ الْيَهُودَ، إنَّ اللّهَ حَرَّمَ عَلَيْهِمُ الشُّحُومَ، فأَجْمَلُوهُ، ثُمَّ بَاعُوهُ، فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ”. رواه البخاري ومسلم.
Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata di Mekkah ketika tahun Fathu Mekkah: “Sesungguhnya Allah dan RasulNya telah mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi dan berhala”.
Dikatakan kepada beliau: Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang lemak bangkai karena perahu-perahu telah dilumuri dengannya, diminyaki dengannya pula kulit (yang mau disamak) dan manusia menjadikannya untuk minyak lentera ?”
Rasulullah berkata: “Tidak, menjual lemak bangkai itu haram”.
Kemudian beliau berkata: “Allah memerangi Yahudi, sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas mereka lemak bangkai kemudian mereka cairkan serta mereka jual dan mereka memakan hasil penjualannya”

HADITS KEEMPAT PULUH ENAM

عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عن أبيه أَبِي مُوسى الأَشعَريِّ أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَهُ إِلَى اليَمَنِ، فسأَلَهُ عَن أَشربةٍ تُصنَعُ بِها، فقال:”وَمَا هِيَ؟” قَالَ: البِتْعُ وَالمِرْزُ، فقِيلَ لأبي بُردَةَ: وما البِتْعُ؟ قال: نَبيذُ العسل، والمِرْزُ نْبيذُ الشَّعير، فقال:”كُلُّ مُسكرٍ حَرامٌ”. رواه البخاري ومسلم.
Dari Abu Burdah dari bapaknya yakni Abu Musa Al Asy’ary Radhiallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya ke Yaman dan bertanya kepadanya tentang minuman yang dibuat di Yaman.
Beliau bertanya: “Apa itu? “
Abu Musa berkata: “al Bit’u dan al Mizru”.
Ditanyakan kepada Abu Musa: “Apa itu al Bit’u?”
Beliau jawab: “Saripati madu adapun al Mizru adalah saripati gandum”.
Maka Rasulullah berkata: “Semua yang memabukkan adalah haram”

HADITS KEEMPAT PULUH TUJUH

عَنِ المِقْدَامِ بنِ مَعدِ يَكْرِب قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: “مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعاءً شَرًا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابنِ آدَمَ أَكَلاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لا مَحَالَةَ، فَثُلثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ”. رواه الترمذي.
Dari Miqdam bin Ma’di Karib Radhiallahu ‘anhu: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidaklah seorang anak adam memenuhi satu tempat yang lebih jelek dari (memenuhi) perutnya.
Cukuplah bagi anak adam makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya, jika harus (lebih dari itu) maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya”

HADITS KEEMPAT PULUH DELAPAN

عَنْ عَبْدِاللهِ بن عمرٍو رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا {خَالِصًا}، وَإِنْ كَانَتْ خَصْلةٌ مِنْهُنَّ فِيهِ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ “. رواه ومسلم.
Dari Abdullah bin Amr Radhiallahu ‘anhu dari nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Empat perkara, barangsiapa yang ada padanya keempat perkara tersebut maka ia munafiq tulen, jika ada padanya satu diantara perangai tersebut berarti ada padanya satu perangai kenifakan sampai meninggalkannya: (1)Yaitu seorang jika bicara dusta, (2)jika membuat janji tidak menepatinya, (3)jika berselisih melampui batas dan (4)jika melakukan perjanjian mengkhianatinya”

HADITS KEEMPAT PULUH SEMBILAN

عَنْ عُمرَ بنِ الخَطَّابِ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “لَوْ أنَّكُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيرَ، تَغدُو خِمَاصًا، وَتَرُوحُ بِطَانًا”. . رواه الترمذي.
Dari Umar bin Khaththab Radhiallahu ‘anhu Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana memberi rezeki kepada burung. Keluar di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang

HADITS KELIMA PULUH

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيْنَا، فَبَابٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ جَامِعٌ؟ قَالَ: “لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ”. رواه أحمد.
Dari Abdullah bin Busr: Datang seorang laki-laki kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam itu terasa banyak bagiku, maka (ajarilah aku) satu bab (ilmu) yang aku akan berpegang teguh dengannya?.
Rasulullah menjawab: Hendaknya lisanmu terus menerus berdzikir kepada Allah”
(Diterjemah oleh Abdurahman Mubarak Ata)

Syarah Arba’in (42)

HADITS KEEMPAT PULUH DUA

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَالَ تَعَالَى: يَاابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَادَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِيْ، يَاابْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ. يَاابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَتُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً. رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Allah ‘Azza wajalla berfirman: “Wahai Ibnu Adam selama engkau berdo’a dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni dosamu walau bagaimanapun (besarnya) Aku tidak peduli.
Wahai Ibnu Adam kalau dosamu mencapai puncak bumi kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni.
Wahai Ibnu Adam jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh bumi tapi engkau berjumpa kepada-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik niscaya akan Aku berikan ampunan semisalnya” (HR. Tirmidzi beliau berkata: Hadits Hasan Shahih) .

Syarah:
Dalam hadits ini terdapat kabar yang agung, pemaafan dan kemurahan yang agung, serta berbagai macam karunia, kebaikan, kasing sayang dan anugerah yang tidak terhitung, hadits ini seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
لله أَفْرَح بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ بِضَالَّتِهِ لَوْ وَجَدَهَا
“Allah lebih merasa gembira dengan taubatnya seorang hamba dari gembiranya salah seorang kalian yang dapat menemukan kambali binatangnya yang hilang”.

Dari Abu Ayyub Radiyallahu’anhu ketika beliau menjelang sakaratul maut: “Aku telah menyembunyikan atas kalian satu hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah:
لَوْلاَ أَنَّكُمْ تذْنبُوْنَ لِخَلْقِ اللهِ خَلْقًا يذْنبُوْنَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
“Kalaulah kalian tidak berdosa niscaya Allah akan menciptakan makhluk yang menggantikan kalian dan kemudian mereka berbuat dosa kemudian Allah mengampuni dosa mereka” dan banyak lagi hadits yang semakna dengan hadits ini.
Perkataan dalam hadits: “Wahai Ibnu Adam selama engkau berdo’a dan berharap kepada-Ku” hadits ini sesuai dengan sabda Rasulullah:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ فَلِيَظُنّ بِيْ مَا شَاءَ
“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku silahkan mereka mempunyai sangkaan semau mereka”, telah ada riwayat bahwasanya seorang hamba apabila berdosa kemudian menyesal dengan berkata: “Wahai Rabb aku melakukan dosa ampunilah aku, tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau, maka Allah berfirman: “Hamba-Ku telah tahu bahwa dia punya Rabb yang mengampuni dosa, mengadzab karena dosa, Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuninya, kemudian hamba tersebut melakukan dosa yang kedua ketiga dan Allah berfirman sama dengan yang pertama, kemudian berfirman: “Amalkanlah apa yang engkau kehendaki sungguh Aku telah mengampuni kalian”, yakni apabila berbuat dosa kemudian beristighfar.
Ketahuilah taubat mempunyai tiga syarat: Pertama: berhenti dari perbuatan maksiatnya, Kedua: menyesal atas apa yang ia sia-siakan, Ketiga: berazam untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Apabila dosanya berkaitan dengan haq hamba maka ia harus menunaikan haq saudaranya dan minta dihalalkan. Kalau dosanya antara ia dengan Allah tapi ada kifarat maka hendaknya ia melaksanakan kifarat, ini adalah syarat keempat. Kalau seorang hamba melaksanakan tiap harinya seperti ini dan bertaubat dengan syarat-syarat lainnya karena Allah, sungguh Allah akan mengampuninya.
Perkataan dalam hadits: “Walau bagaimanapun” yakni walau berulang kali engkau melakukan maksiat, perkataan dalam hadits: “aku tidak peduli” yakni aku tidak peduli dengan dosamu.
Perkataan dalam hadits: “Wahai Ibnu Adam kalau dosamu mencapai puncak bumi kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni” yakni kalau dosa berupa benda yang memenuhi bumi dan langit, ini adalah puncak banyaknya dosa akan tetapi karena kemurahan dan kebijakan Allah serta pemaafannya yang lebih besar dan agung, tidak ada diantara keduanya kesesuaian dan tidak ada kemuliaan yang lain, maka hancurlah dosa alam di sisi kebijakan dan pemaafan Allah Subhanahu wata’ala.
Perkataan dalam hadits: “Wahai Ibnu Adam jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh bumi tapi engkau berjumpa kepadaku dalam keadaan tidak berbuat syirik niscaya akan Aku berikan ampunan semisalnya” yakni datang kepada-Ku dengan dosa hampir sepenuh bumi.
Perkataan dalam hadits: “Kemudian bertemu dengan-Ku” yakni engkau mati dalam keadaan beriman tidak berbuat syirik kepada Allah. Tidak ada ketenangan bagi seorang mukmin selain bertemu dengan Rabbnya, Allah telah berfirman:
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَآءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيْمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan akan mengampuni dosa yang selainnya bagi orang yang dikehendaki” (An Nisa: 48), dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Tidaklah seorang hamba dianggap terus menerus melakukan dosa jika beristighfar walau dalam sehari melakukan dosa sembilan puluh kali”, Abu Hurairah berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Baik sangka kepada Allah termasuk ibadah kepada Allah yang paling baik”.
(Diterjemah oleh Abdurahman Mubarak Ata)

Syarah Arba’in (41)

HADITS KEEMPAT PULUH SATU

عَنْ أَبِيْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ. حديث صحيح رويناه في كتاب الحجة بإسناد صحيح.

Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Ash Radhiallahu ‘anhuma: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang dibawa olehku” (Hadits Hasan Shahih, diriwayatkan dalam kitabul hujjah dengan sanad yang shahih) .

Hadits ini semakna dengan firman Allah Ta’ala:
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِيْ أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“… Demi Rabbmu sekali-kali tidaklah mereka beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan dan tidak ada ganjalan di hati mereka terhadap apa yang engkau putusklan dan mereka berserah diri” (An Nisa: 65).

Sebab turunnya ayat ini adalah Zubair Radiyallahu’anhu berselisih dengan seorang anshar dalam masalah air, keduanya kemudian berhakim kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ambillah wahai Zubair dan alirkanlah air tersebut kepada tetanggamu” beliau menganjurkan Zubair untuk toleran dan memberikan kemudahan kepada temannya. Orang anshar tersebut berkata: ”Itu karena Zubair adalah anak pamanmu?”, raut muka Rasulullah pun berubah dan beliau berkata: “Ya Zubair tahanlah air hingga sampai tembok, kemudian alirkanlah” hal ini dikarenakan Rasulullah mengisyaratkan kepada Zubair sesuatu yang mengandung maslahat bagi orang anshar tersebut, ketika orang anshar membuatnya marah akhirnya iapun memberikan kepada Zubair seluruh yang wajib baginya, kemudian turunlah ayat ini.
Telah shahih bahwa Rasulullah bersabda:
وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
“Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya tidaklah sempurna iman salah seorang kalian hingga aku lebih ia cintai dibandingkan orang tua anaknya dan manusia seluruhnya”.

Abu zinad berkata: “Ini adalah termasuk jawami’ul kalim Rasulullah, karena lafadz yang pendek ini mengandung makna yang banyak sekali, karena mahabbah itu terbagi menjadi tiga: Pertama: Mahabbah kemuliaan dan pengagungan seperti mahabbah kepada orang tua, Kedua: Mahabbah kasih sayang dan rahmat seperti mahabbah kepada anak, Ketiga: Mahabbah istihsan dan bercocokan yakni seperti mahabbahnya manusia, terbatasilah golongan mahabbah.
Ibnu Batthal berkata: “Makna hadits – wallahu a’lam – Barangsiapa yang telah sempurna keimanannya dia akan tahu bahwa haq Rasulullah dan keutamaannya lebih wajib atasnya dari pada haq bapa dan anaknya serta haq seluruh manusia. Karena dengan sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Allah menyelamatkan dia dari neraka dan membimbingnya dari kesesatan. Yang dimaksud oleh hadits adalah mencurahkan seluruh kemampuan diri untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Para Shahabat Radiyallahu’anhum memerangi bapak-bapak, anak-anak dan saudara mereka bersama Rasulullah. Abu Ubaidah membunuh bapaknya karena bapaknya menyakiti Rasulullah, Abu Bakar mau membunuh anaknya yang bernama Abdurrahman ketika perang Badar, beliau hampir dapat membunuhnya.
Maka barangsiapa yang sudah mendapatkan dirinya seperti ini telah benar bahwa hawa nafsunya telah mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
(Diterjemah oleh Abdurahman Mubarak Ata)

Syarah Arba’in (40)

HADITS KEEMPAT PULUH

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِيْ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. رواه البخاري.

Dari Ibnu Umar Radiyallahu’anhuma: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memegang dua pundakku dan berkata: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang numpang lewat”. Ibnu Umar berkata: “Apabila di sore hari janganlah menunggu pagi hari (untuk beramal shalih), dan ketika pagi hari janganlah menunggu sore hari. Ambillah kesempatan masa sehatmu sebelum sakitmu, dan ambil kesempatan waktu hidupmu sebelum datang waktu matimu” (HR. Bukhari).

Syarah:
Imam Abul Hasan Ali bin Khalaf berkata dalam syarah Bukhari: “Makna hadits ini adalah menganjurkan untuk sedikit bergaul dan untuk qana’ah, serta zuhud di dunia.
Abul Hasan berkata: “Penjelasannya karena orang asing sedikit sekali mau berkumpul dengan manusia, karena dia hampir tidak menemukan orang yang dikenal untuk dijadikan sebagai teman, dia menjadi rendah dan takut. Demikian pula orang yang sedang numpang lewat tidak bisa melanjutkan safarnya kecuali dengan kekuatan yang ia miliki untuk safar dan sedikitnya barang bawaan, tidak menyibukkan diri dengan sesuatu yang akan menghalangi safarnya. Ia tidak membawa sesuatu kecuali bekal dan kendaraan yang akan menyampaikannya hingga akhir tujuannya. Ini menunjukkan mengutamakan zuhud di dunia untuk mengambil bekal dan kecukupan, sebagaimana orang musafir tidak membutuhkan banyak harta kecuali yang bisa menyampaikan ke tujuannya.
‘Iz ‘Alauddin bin Yahya bin Hubairah berkata: “Dalam hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah menganjurkan untuk menyerupai orang asing, karena orang asing apabila masuk ke satu negeri tidak berlomba dengan penduduk asli di majlis mereka. Tidak pernah merasa gundah ketika melihat orang lain berbeda dengan dirinya dalam masalah pakaian. Tidak pernah saling bermusuhan bersama mereka.
Demikian pula orang yang sedang numpang lewat tidak menjadikan negeri tempat ia singgahi seperti negerinya. Tidak pernah mau berdebat dengan manusia, karena merasa bahwa ia hanya sebentar saja bersama mereka. Keadaan orang asing dan yang numpang lewat disunnahkan ada pada seorang mukmin di dunia ini, karena dunia ini bukan tempat tinggalnya, bahkan menghalangi dari negerinya, menghalangi dirinya untuk tinggal di negerinya.
Adapun perkataan Ibnu Umar: “Apabila sedang di waktu sore jangan menunggu waktu pagi” itu adalah anjuran darinya agar seorang mukmin selalu siap untuk mati, bersiap menghadapi mati tentunya dengan beramal shalih. Beliau juga menganjurkan untuk tidak penjang angan-angan yakni jangan menunggu pagi untuk mengamalkan amalan-malam. Bahkan seharusnya bersegera untuk beramal, demikian pula ketika pagi hari jangan bisikkan kepada dirimu untuk menunggu waktu sore mengakhirkan amalan hingga sore hari.
Perkataan beliau: “Ambillah kesempatan sehatmu sebelum sakit”, anjuran untuk menggunakan waktu sehat, hendaknya bersemangat beramal shalih ketika sehat karena khawatir datangnya sakit yang akan menghalanginya dari beramal shalih.
Demikian pula perkataannya: “Ambillah kesempatan waktu hidupmu untuk matimu”, peringatan untuk menggunakan hari-hari hidupya, karena barangsiapa yang mati telah putus amalannya dan hilang angan-angannya, besar rasa sesalnya atas apa yang luput darinya. Hendaknya tahu bahwa akan datang padanya jaman yang panjang dalam keadaan ia dibawah tanah tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mungkin berdzikir kepada Allah. Maka hendaknya ia bersegera di waktu sehatnya. Betapa mencakupnya hadits ini akan makna-makna yang baik dan mulia.
Sebagian ulama berkata: “Allah mencerca panjang angan-angan dalam Firmannya:
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ اْلأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ
“Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan, nanti mereka akan mengetahuinya” (Al Hijr: 3).
Ali Radiyallahu’anhu berkata: “Dunia berjalan untuk meninggalkan kita sedangkan akhirat berjalan untuk mendatangi kita, keduanya mempunyai anak, jadilah kalian anak akhirat jangan menjadi budak dunia, karena sekarang adalah waktu beramal dan tidak ada hisab adapun di akhirat adalah waktu hisab tidak ada waktu untuk beramal.
Anas Radiyallah’anhu berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menggaris beberapa garis, dan berkata: “Ini adalah manusia, ini angan-angannya, dan ini ajalnya, ketika ia sedang berangan tiba-tiba datang kepadanya garis yang lebih dekat” yakni ajal yang selalu meliputi dirinya. Ini merupakan peringatan untuk tidak panjang angan. Dan menganggap sudah dekat waktu datangnya ajal, karena khawatir datang tiba-tiba.
Barangsiapa yang merasa tidak bisa menebak ajal, harus merasa khawatir dalam menunggunya, khawatir datangnya ajal ketika ia lalai dan tertipu oleh dunia. Hendaknya seorang mukmin ridha untuk menggunakan sesuatu yang bisa mengingatkannya dan harus melawan angan dan hawa nafsunya, karena manusia memang dipenuhi angan-angan.
Abdullah bin Umar berkata: “Rasulullah melihatku ketika aku menembok kebun kami, beliau berkata: “Apa ini wahai Abdullah?” aku jawab: “wahai Rasulullah tembok ini telah lemah kami ingin membetulkannya”, beliau bersabda: “urusan lebih dari itu”.
Kita minta kepada Allah agar memberikan kelembutannya kepada kita, menjadikan kita zuhud di dunia, menjadikan keinginan kita adalah yang ada disisi-Nya, dan waktu istirahat kita adalah hari kiamat. Dia adalah Dzat yang Maha Derma Pemurah Pengampun dan Penyayang.
(Diterjemah Abdurahman Mubarak Ata)

Syarah Arba’in (39)

HADITS KETIGA PULUH SEMBILAN

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِيْ عَنْ أُمَّتِيْ: اَلْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ. حديث حسن رواه ابن ماجة والبيهقي وغيرهما.

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu’anhuma: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersbda: “Allah akan memaafkan kesalahan seorang hamba karena keliru, lupa, atau dipaksa” (Hadits Hasan riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi serta selain keduanya).

Telah ada penjelasan dalam menafsirkan ayat Allah:
وَإِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْ أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهُ
“Jika kalian tampakkan yang ada pada hati kalian atau tidak kalian tampakkan Allah tetap menghisab kalian” (Al Baqarah: 284).
Ketika turun ayat ini para shahabat Radiyallahu’anhum merasa berat, maka Abu Bakar, Umar, Abdurrahman bin Auf dan Muadz bin Jabal mendatangi Rasulullah bersama sekelompok orang yang berkata:
كَلَّفَنَا مِنَ الْعَمَلِ مَالاَنُطِيْقُ، إِنَّ أَحَدَنَا لَيُحَدِّثَ نَفْسَهُ بِمَا لاَ يَجِبُ أَنْ يَثْبُت فِيْ قَلْبِهِ وَأَنَّ لَهُ الدُّنْيَا.
“Allah membebani kami dengan sesuatu yang tidak mampu kami lakukan, sungguh seseorang kami terbetik dalam hatinya perkara yang tidak ia inginkan hal tersebut ada dalam hatinya walau diberi dunia seisinya”.
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَعَلَّكُمْ تَقُوْلُوْنَ كَمَا قَالَتْ بَنُوْا إِسْرَائِيْل: سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا. قُوْلُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا.
“Mungkin kalian seperti bani Israil yang berkata: “kami dengar dan kami bermaksiat”, katakanlah kami dengar dan kami taat”.
Jawaban tersebut terasa berat bagi para shahabat hingga mereka pun diam beberapa lama, akhirnya Allah menurunkan ayat sebagai jalan keluar dan rahmat bagi hamba-Nya:
لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan yang ia mampu, baginya pa yang ia amalkan dan atasnya apa yang ia perbuat,”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami keliru” (Al Baqarah: 284). Allah berfirman: “Telah Aku lakukan…” sampai akhir kisah. Turunlah ayat yang meringankan dan dimansukhlah (dihapus hukum) ayat yang pertama.
Imam Baihaqi berkata: “Telah berkata Imam Syafi’I: Allah Ta’ala berfirman:
إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيْمَنِ
“Kecuali orang yang dipaksa dan hatinya masih tentram dengan keimanan” (An Nahl: 106).
Dalam masalah kekafiran ada banyak hukum, tapi karena Allah menegaskan tidak kafirnya orang yang dipaksa maka gugurlah hukum-hukum lainnya dari seseorang karena dipaksa. Karena jika perkara yang paling besar gugur maka gugur pula masalah-masalah yang kecil, kemudian beliau meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Allah akan memaafkan kesalahan seorang hamba karena keliru, lupa atau dipaksa”, juga meriwayatkan dari Aisyah Radiyallahu’anha Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لا طلاق ولاعتاف في إغلاق
“Tidak ada thalaq dan pembebasan budak jika dalam keadaan tidak sadar” ini adalah madzhabnya Umar bin Khatthab, Ibnu Umar dan Ibnu Zubair. Tsabit bin Ahnaf pernah menikahi ummu walad milik Abdurrahman bin Zaid bin Khattab. Kemudian Abdurrahman bin Zaid memaksanya dengan cambuk dan ancaman agar ia mentalaq ummu walad ketika masa khalifah Ibnu Zubair, Ibnu Umar berkata kepadanya: “Belum jatuh thalaq atasmu, kembalilah kekelargamu ketika itu Ibnu Zubair ada di Mekkah, ia pun menyusulnya kemudian Ibnu Zubair menulis surat kepada pegawainya di Madinah, untuk mengembalikan istri Tsabit kepadanya, dan perintah untuk menghukum Abdurrahman bin Zaid. Kemudian Shafiyah bintu Abi Ubaid istri Abdullah bin Umar menyiapkan istri Tsabit, Abdullah bin Umar bahkan menghadiri pernikahannya, wallahu a’lam.
(Diterjemah Abdurahman Mubarak Ata)

Syarah Arba’in (38)

HADITS KETIGA PULUH DELAPAN

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْئٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبَ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبَتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِيْ أَعْطَيْتُهُ وَلَئِن اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ. رواه البخاري.

Dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku telah mengumumkan perang dengannya. Tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaku yang lebih Aku cintai selain bertaqarrub dengan perkara yang wajib. Terus menerus seorang hamba bertaqarrub kepada-Ku dengan perkara-perkara sunnah hingga Aku mencintainya. Kalau Aku sudah cinta kepadanya maka Aku adalah pendengarannya yang mendengar dengannya, pandangannya yang dengannya ia memandang, tangannya yang dengannya ia memukul dan kakinya yang dengannya ia berjalan, kalau meminta niscaya Aku akan memberinya dan jika minta perlindungan niscaya Aku akan melindunginya” (HR. Bukhari).

Syarah:
Pengarang Al Ifshah berkata: didalam hadits ini ada fiqih: bahwasanya Allah Ta’ala memberikan peringatan atas setiap orang yang memusuhi wali Allah: Bahwa dia telah mengumumkan peperangan karena sebab permusuhan orang tersebut kepada wali Allah, wali Allah adalah orang yang mengikuti syariat-Nya.
Maka hati-hatilah seorang muslim jangan sampai menyakiti hati wali-wali Allah.
Makna permusuhan adalah menjadikannya sebagai musuh, dan aku berpendapat maknanya adalah memusuhi karena kedudukannya sebagai wali Allah.
Adapun jika karena satu hal yang menyebabkan terjadinya perselisihan antara dua wali untuk memperjelas hak yang masih tersembunyi tidaklah masuk dalam hadits ini, karena perselisihan seperti ini terjadi antara Abu Bakar dan Umar Radiyallahu’anhuma, juga antara Abbas dan Ali Radiyallahu’anhuma dan banyak diantara shahabat lainnya. Mereka semua adalah wali Allah.
Perkataan dalam hadits: “Tidaklah seorang hamba bertaqarrub kepadaku yang lebih Aku cintai selain bertaqarrub dengan perkara yang wajib” ini merupakan isyarat tidak bolehnya mendahulukan perkara sunnah dari yang wajib, perkara sunnah dinamakan nafilah apabila telah melakukan perkara yang wajib.
Ditunjukkan pula oleh perkataan-Nya: “Terus menerus seorang hamba bertaqarrub kepada-Ku dengan perkara-perkara sunnah hingga Aku mencintainya” karena bertaqarrub dengan perkara nafilah itu setelah melakukan perkara yang wajib.
Apabila seorang hamba merutini amalan nafilah akan menyebabkan ia dicintai oleh Allah Azza wajalla.
Kemudian perkataannya: “Kalau Aku sudah cinta kepadanya maka Aku adalah pendengarannya yang mendengar dengannya, pandangannya yang dengannya ia memandang…”dst. Ini adalah tanda wali Allah yang sudah dicintai oleh-Nya. Maknanya adalah ia tidak pernah mendengarkan sesuatu yang tidak diijinkan syariat untuk didengar, tidak melihat sesuatu yang dilarang oleh syariat untuk dilihat, tidak pernah mengulurkan tangan dalam perkara yang tidak diijinkan oleh syari’at, tidak berjalan kecuali berjalan menuju sesuatu yang diijinkan syariat, inilah hukum asalnya. Kadang telah dominan atas seorang hamba dzikrullah hingga ia dikenal demikian, ketika diajak bicara orang lain hamper tidak mau mendengarnya. Demikian pula dalam masalah pandangan,makanan dan berjalan. Kita minta kepada Allah agar kita dijadikan orang yang demikian.
Perkataannya: “Jika minta perlindungan niscaya akan AKu lindungi” menunjukkan apabila seorang hamba sudah menjadi orang yang dicintai Allah tidak akan tertolak ketika ia meminta kebutuhan atau ketika ia minta perlindungan kepada Allah dari orang yang ia takutkan. Allah Maha kuasa untuk memberinya sebelum ia meminta, melindunginya sebelum ia minta perlindungan, akan tetapi Allah menjadikan sarana bertaqarrub hambanya dengan memberi orang yang meminta dan melindungi orang yang minta perlindungan”.
Perkataannya: (استعاذني) ditulis dengan nun dan ya keduanya benar, perkataannya diawal hadits: (فقد آذنته بالحرب) dengan hamzah mamdudah : yakni Aku umumkan bahwa sesungguhnya ia sedang berperang melawan-Ku.
(Diterjemah oleh Abdurahman Mubarak Ata)

Syarah Arba’in (37)

HADITS KETIGA PULUH TUJUH

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ: إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً وَاحِدَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَ اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً. رواه البخاري ومسلم في صحيحيهما بهذه الحروف.

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu’anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, meriwayatkan dari Rabbnya Tabarak wa Ta’ala: “Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan dan kesalahan kemudian menerangkannya, barangsiapa yang ingin melakukan amalan baik dan ia tidak melakukannya Allah menulis untuknya sebagai satu kebaikan, dan jika ia berniat kemudian mengamalkannya Allah akan menuliskan untuknya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat dan sampai kelipatan yang banyak. Jika berniat kejelekan dan tidak melakukannya Allah tuliskan baginya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika berniat jelek dan ia melakukannya Allah tuliskan sebagai satu kejelekan untuknya” (HR. Bukhari Muslim dalam shahih keduanya dengan lafadz seperti ini).

Lihatlah wahai saudaraku – mudah-mudahan Allah memberi taufiq kepada kita – besarnya kelembutan Allah Ta’ala dan perhatikanlah kata-kata dalam hadits ini, Firman Allah: “disisinya” isyarat akan perhatian-Nya kepada masalah tersebut. Firman-Nya: “sempurna” sebagai ta’kid (penekanan) dan perhatian Allah dalam masalah tersebut. Allah tentang orang yang niat berbuat jelek tapi tidak mengamalkannya: “Allah tuliskan baginya sebagai satu kebaikan yang sempurna” Allah memberikan penekanan dengan kata “ كاملة / sempurna”, jika mengamalkannya ditulis sebagai satu kesalahan, Allah menekankan akan sedikitnya dengan kata: (واحدة) satu”. Tidak dita’kid dengan kata “ كاملة / sempurna”. Milik Allah lah pujian dan anugerah, kita tidak bisa menghitung pujian atas-Nya, wabillahit taufiq.

Syarah:
Para pensyarah hadits ini menyatakan: “Ini adalah hadits yang agung. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan dalam hadits ini besarnya karunia Allah kepada hambanya, dengan menjadikan niat hamba berbuat baik jika tidak diamalkannya dianggap sebagai satu kebaikan, menjadikan niatnya berbuat jelek jika tidak dilakukan dianggap sebagai satu kebaikan pula. Ini adalah keutamaan yang besar karena Allah melipat gandakan kebaikan dan tidak melipat gandakan kejelekan. Sebabnya menjadikan niat berbuat baik sebagai kebaikan karena keinginan berbuat baik adalah amalan hati, hati sudah terikat untuk berbuat itu.
Jika ada yang mengatakan: “Kalau demikian maka mengharuskan ditulisnya kejelekan orang yang berbuat jelek walaupun tidak melakukannya, karena keinginan berbuat sesuatu adalah termasuk amalan hati.
Kita jawab: “Tidaklah seperti yang kau katakan, karena barangsiapa yang menahan diri dari perbuatan jelek berarti telah mengganti keinginan berbuat jelek dengan keinginan berbuat baik. Dia melawan hawa nafsunya yang ingin berbuat jelek, sehingga dia diberi pahala atas perbuatan ini.
Dalam hadits lain:
إِنَّمَا تَرَكَهَا مِنْ جَرَائِيْ
“Sesungguhnya ia meninggalkannya karena takut kepada-Ku” yakni karena Aku, ini seperti perkataan Rasulullah:
“Atas setiap muslim shadaqah” Mereka bertanya: “Jika tidak dilakukan? Beliau berkata: “Hendaknya menahan diri dari berbuat jelek, karena itu juga shadaqah” diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabul adab. Adapun jika meninggalkan perbuatan jelek tersebut karena terpaksa atau karena tidak mampu melakukannya tidaklah ditulis sebagai satu kebaikan, dan tidak masuk dalam makna hadits ini.
Imam Thabari berkata: “Hadits ini membenarkan perkataan orang yang mengatakan: “Bahwa malaikat pencatat mencatat apa yang diniatkan hamba yang baik atau yang jelek, mengetahui keinginannya untuk berbuat demikian, serta membantah perkataan orang yang berkata: “Malaikat hanya mencatat yang tampak dari amalan hamba atas pendengaran. Maknanya: dua malaikat yang diutus oleh Allah tersebut mengetahui apa yang diinginkan seorang hamba. Bisa jadi Allah menjadikan bagi mereka jalan untuk mengetahuinya sebagaimana Allah menjadikan banyak nabinya mengetahui perkara ghaib.
Allah berfirman tentang nabi Isa alaihissalam, beliau berkata kepada Bani Israil:
وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُوْنَ وَمَا تَدَّخِرُوْنَ فِيْ بُيُوْتِكُمْ
“Aku kabarkan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan…” (Ali Imran: 49).
Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam telah banyak mengabarkan perkara ghaib, sehingga bisa jadi Allah menjadikan jalan bagi dua malaikat tersebut untuk mengetahui apa yang ada dalam hati hamba dari kebaikan atau kejelekan kemudian menulisnya ketika hamba sudah ber’azam untuk melakukannya.
Ada yang menyatakan: hal ini karena ada angin yang datang dari hati.
Salaf berselisih mengenai dzikir mana yang lebih afdhal: dzikir hati atau dzikir dengan dikeluarkan suaranya? Dan ini seluruhnya pendapat Ibnu Khalaf yang ma’ruf dengan Ibnu Batthal.
Pengarang Al Ifshah berkata: “Sesungguhnya Allah ketika membinasakan umat ini dan diiringi oleh kurangnya amal dengan melipat gandakan amalan mereka. Maka barangsiapa yang berniat berbuat baik Allah menganggapnya sebagai kebaikan sempurna, karena keinginannya satu, menjadikannya sempurna agar jangan ada orang yang menyangka bahwa keberadaannya hanya semata niat itu akan mengurangi atau menghancurkannya. Maka Allah terangkan dengan perkataan-Nya: “Kebaikan yang sempurna”, jika berniat beramal baik dan mengamalkannya mengeluarkannya dari niat menjadi catatan amal, dicatat untuknya sebagai kabaikan kemudian dilipat gandakan. Yakni hal tersebut sesuai dengan kadar keikhlasan niat yang melakukannya sesuai tempatnya. Kemudian berfirman: “sampai kelipatan yang banyak” dengan lafadz nakirah, yang lebih mencakup dari ma’rifah. Ini menghendaki menghitung yang banyak dengan kadar hitungan banyak yang terbesar, janji Allah ini, dikatakan: jika seorang manusia bershadaqah dengan satu butir gandum maka dihitung dalam karunia Allah. Seperti engkau menaburkannya di tanah yang halus, kemudian ia menjaga dan memeliharanya dan melakukan sesuatu yang diperlukan untuk kebaikan tanamannya. Ketika hari panen nampaklah hasilnya, kemudian ditentukan dari hasil tersebut untuk ditaburkan kembali di tanah, dan menjaganya seperti tadi. Demikianlah di tahun yang kedua, kemudian ketiga, keempat dan setelahnya terus berlangsung sampai hari kiamat, datanglah sebutir gandum seperti gunung yang kokoh. Jika seseorang bershadaqah satu butir atom dengan keimanan, maka dilihat untungnya jika dibelikan sesuatu kemudian dinilai dengan harga jika ia menjualnya di pasar yang paling banyak mendapatkan untung. Kemudian dilipat gandakan, dan terus berulang sampai hari kiamat, satu biji atom itu akan datang sebesar dunia seluruhnya.
Termasuk hal itu juga: Sesungguhnya karunia Allah itu berlipat ganda dengan adanya perpindahan seperti seorang yang bershadaqah kepada orang faqir satu dirham, kemudian orang faqir tersebut memberikan kepada orang yang lebih faqir darinya, kemudian orang tersebut memberikan kepada orang faqir yang ketiga, ketiga diberikan ke yang keempat, keempat diberikan kepada orang yang seterusnya. Maka Allah mencatat bagi orang yang shadaqah sepuluh kebaikan. Jika diberikan kepada orang faqir yang kedua maka untuk orang faqir yang pertama sepuluh kebaikan dan bagi yang bershadaqah seratus kebaikan. Jika orang faqir yang kedua menshadaqahkannya lagi, maka orang faqir pertama mendapat seratus kebaikan dan bagi yang bershadaqah mendapat seribu kebaikan, jika dishadaqahkan lagi, orang faqir pertama mendapat seribu dan yang bershadaqah sepuluh ribu, kemudian dilipat gandakan dalam hitungan yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala..
Diantara karunia-Nya juga: “Allah jika menghisab hamba-Nya yang muslim di hari kiamat, dan dia mempunyai kebaikan yang berbeda ada yang tinggi dan ada yang dibawah itu. Maka Allah dengan kedermaan-Nya dan karunia-Nya menganggap seluruh amalan tersebut sebagai kebaikan yang bernilai tinggi, karena kedermaa-Nya Allah hingga Allah yang Maha Agung tidak akan menanyai hamba yang diridhainya tentang perbedaan tingkat kebaikan. Allah berfirman:
“Kami akan balas pahala mereka dengan nilai amalan yang paling baik yang mereka lakukan” sebagaimana jika seorang hamba mengucapkan do’a: (لاإله إلاالله وحده لاشريك له) ketika berada di salah satu pasar muslimin dengan mengeraskan suara, Allah akan mencatat untuknya dua juta seribu amalan, dan menghapus darinya dua juta seribu kesalahan, dan membangunkan untuknya satu rumah di sorga sebagaimana terdapat dalam hadits.
Yang kita sebutkan disini adalah menurut kadar pengetahuan kita bukan kadar karunia Allah, karena karunia Allah itu besar tidak bisa dihitng oleh makhluk-Nya.
(Diterjemah oleh Abdurahman Mubarak Ata)

Syarah Arba’in (36)

HADITS TIGA PULUH ENAM

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ. وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرَعْ بِهِ نَسَبُهُ. رواه مسلم بهذا اللفظ.

Dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ia bersabda: “Barangsiapa yang melepaskan dari orang mukmin satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan dunia, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang kesukaran pasti Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan akhirat. Dan siapa yang menutupi aib saudaranya pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat, Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu pasti Allah akan memudahkan baginya jalan menuju sorga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah Allah membaca dan mempelajari kitab Allah diantara mereka, kecuali turun kepada mereka sakinah dan mereka diliputi rahmat dan dinaungi malaikat, Allah menyebut mereka di majlis-Nya. Barangsiapa yang lambat amalannya tidak akan cepat bagiannya” (HR. Muslim).

Syarah:
Ini adalah hadits yang agung, mencakup berbagai macam ilmu dan qa’idah serta adab. Dalam hadits ini diterangkan keutamaan memenuhi kebutuhan kaum muslimin, memberi manfaat kepada mereka dengan sesuatu yang memudahkan mereka baik berupa ilmu, harta ataupun pertolongan, serta mengisyaratkan kepada maslahah, nasihat dan lainnya. Makna (تنقير الكربة) adalah menghilangkannya. Sabdanya: (من ستر مسلما) yakni menutupi ketergelincirannya, maksudnya menutupi aib orang yang terhormat dan seperti mereka yang tidak dikenal kerusakannya. Maksudnya menutupi perbuatan maksiat yang sudah terjadi dan selesai, adapun jika mengetahuinya ketika masih dilakukan maka wajib bersegera mengingkari dan mencegahnya berbuat demikian, jika tidak mampu ia harus melaporkannya kepada pemerintah, bila tidak menimbulkan kerusakan. Hal yang ma’ruf ketika itu tidak ditutupi perbuatannya karena kalau ditutup-tutupi mendorongnya membuat kerusakan, gangguan, melanggar keharaman-keharaman, serta orang yang selainnya akan berani berbuat demikian, bahkan disunnahkan dilaporkan kepada imam jika takut ada mafsadah (kerusakan). Demikian pula mengucapkan jarah (kritikan) terhadap perawi, saksi, orang-orang yang diberi amanah untuk shadaqah, waqaf dan anak yatim serta selain mereka, wajib mengkritik mereka ketika dibutuhkan, tidak halal menutup-nutupi mereka jika tampak dari mereka sesuatu yang mencela keahlian mereka, dan ini bukan ghibah yang diharamkan, tapi termasuk nasehat yang wajib.
Sabdanya: (والله في عون العبد مادام العبد في عون أخيه) “Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya” kalimat global ini tidak cukup tafsirnya dalam buku ini, tapi diantara tafsirnya: “Seorang hamba jika berniat menolong temannya jangan takut untuk mengucapkan atau mengumandangkan alhaq, tetapi harus yakin bahwa Allah pasti menolongnya”.
Dalam hadits ini terdapat keutamaan memudahkan orang yang kesulitan, dan keutamaan berusaha menuntut ilmu, juga keutamaan orang yang sibuk dengan ilmu, maksudnya ilmu syar’i. dan disyaratkan harus diniatkan mencarinya wajah Allah, walaupun memang itu syarat dalam seluruh ibadah. Sabdanya:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ .
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah Allah membaca dan mempelajari kitab Allah diantara mereka”.
Ini dalil keutamaan berkumpul untuk membaca Al Qur’an di mesjid. “Sakinah” dalam hadits ini ada yang mengatakan maknanya adalah rahmat, ini pendapat yang lemah, karena digandengkannya kata “rahmah” dengan kata tersebut dalam hadits ini. Sebagian lagi menyatakan maknanya: Tuma’ninah dan ini makna yang lebih baik.
Dalam perkataannya: (ومااجتمع قوم) nakirah yang mencakup seluruh jenisnya, sepertinya beliau berkata: “Orang-orang manapun yang berkumpul dan mengamalkan amalan tersebut maka mereka mendapatkan keutamaan yang disebutkan, karena dalam hadits ini Allah tidak mensyaratkan harus ulama, zuhud atau orang yang punya kedudukan.
Sabdanya: (حفتهم الملائكة) yakni malaikat mengelilingi mereka, seperti firman Allah: “(Malikat) berkeliling (mengelilingi) di dekat Arsy”, yakni meliputi dan mengelilinginya di setiap sisi. Sepertinya, malaikat dekat dengan mereka meliputi hingga tidak meninggalkan ruang buat syaithan.
Perkataannya: (غشيتهم الرحمة) kata (غشي) tidak dipakai kecuali untuk sesuatu yang meliputi seluruh bagian yang ditutup. Syaikh Syihabuddin bin Farj berkata: “Maknanya yang aku tahu meliputinya rahmah, maknanya memenuhi (menghapus) segala dosa yang telah lalu.
Sabdanya: (وذكرهم الله فيمن عنده) menghendaki Allah menyebut mereka dihadapan para nabi dan malaikat yang dimuliakan. Wallahu a’lam.
(Di terjemah oleh Abdurahman Mubarak Ata)