Januari 21, 2021

ALMUBARAK

MEDIA BERBAGI FAEDAH

Syarah Arba’in (40)

3 min read

HADITS KEEMPAT PULUH

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِيْ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. رواه البخاري.

Dari Ibnu Umar Radiyallahu’anhuma: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memegang dua pundakku dan berkata: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang numpang lewat”. Ibnu Umar berkata: “Apabila di sore hari janganlah menunggu pagi hari (untuk beramal shalih), dan ketika pagi hari janganlah menunggu sore hari. Ambillah kesempatan masa sehatmu sebelum sakitmu, dan ambil kesempatan waktu hidupmu sebelum datang waktu matimu” (HR. Bukhari).

Syarah:
Imam Abul Hasan Ali bin Khalaf berkata dalam syarah Bukhari: “Makna hadits ini adalah menganjurkan untuk sedikit bergaul dan untuk qana’ah, serta zuhud di dunia.
Abul Hasan berkata: “Penjelasannya karena orang asing sedikit sekali mau berkumpul dengan manusia, karena dia hampir tidak menemukan orang yang dikenal untuk dijadikan sebagai teman, dia menjadi rendah dan takut. Demikian pula orang yang sedang numpang lewat tidak bisa melanjutkan safarnya kecuali dengan kekuatan yang ia miliki untuk safar dan sedikitnya barang bawaan, tidak menyibukkan diri dengan sesuatu yang akan menghalangi safarnya. Ia tidak membawa sesuatu kecuali bekal dan kendaraan yang akan menyampaikannya hingga akhir tujuannya. Ini menunjukkan mengutamakan zuhud di dunia untuk mengambil bekal dan kecukupan, sebagaimana orang musafir tidak membutuhkan banyak harta kecuali yang bisa menyampaikan ke tujuannya.
‘Iz ‘Alauddin bin Yahya bin Hubairah berkata: “Dalam hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah menganjurkan untuk menyerupai orang asing, karena orang asing apabila masuk ke satu negeri tidak berlomba dengan penduduk asli di majlis mereka. Tidak pernah merasa gundah ketika melihat orang lain berbeda dengan dirinya dalam masalah pakaian. Tidak pernah saling bermusuhan bersama mereka.
Demikian pula orang yang sedang numpang lewat tidak menjadikan negeri tempat ia singgahi seperti negerinya. Tidak pernah mau berdebat dengan manusia, karena merasa bahwa ia hanya sebentar saja bersama mereka. Keadaan orang asing dan yang numpang lewat disunnahkan ada pada seorang mukmin di dunia ini, karena dunia ini bukan tempat tinggalnya, bahkan menghalangi dari negerinya, menghalangi dirinya untuk tinggal di negerinya.
Adapun perkataan Ibnu Umar: “Apabila sedang di waktu sore jangan menunggu waktu pagi” itu adalah anjuran darinya agar seorang mukmin selalu siap untuk mati, bersiap menghadapi mati tentunya dengan beramal shalih. Beliau juga menganjurkan untuk tidak penjang angan-angan yakni jangan menunggu pagi untuk mengamalkan amalan-malam. Bahkan seharusnya bersegera untuk beramal, demikian pula ketika pagi hari jangan bisikkan kepada dirimu untuk menunggu waktu sore mengakhirkan amalan hingga sore hari.
Perkataan beliau: “Ambillah kesempatan sehatmu sebelum sakit”, anjuran untuk menggunakan waktu sehat, hendaknya bersemangat beramal shalih ketika sehat karena khawatir datangnya sakit yang akan menghalanginya dari beramal shalih.
Demikian pula perkataannya: “Ambillah kesempatan waktu hidupmu untuk matimu”, peringatan untuk menggunakan hari-hari hidupya, karena barangsiapa yang mati telah putus amalannya dan hilang angan-angannya, besar rasa sesalnya atas apa yang luput darinya. Hendaknya tahu bahwa akan datang padanya jaman yang panjang dalam keadaan ia dibawah tanah tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mungkin berdzikir kepada Allah. Maka hendaknya ia bersegera di waktu sehatnya. Betapa mencakupnya hadits ini akan makna-makna yang baik dan mulia.
Sebagian ulama berkata: “Allah mencerca panjang angan-angan dalam Firmannya:
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ اْلأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ
“Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan, nanti mereka akan mengetahuinya” (Al Hijr: 3).
Ali Radiyallahu’anhu berkata: “Dunia berjalan untuk meninggalkan kita sedangkan akhirat berjalan untuk mendatangi kita, keduanya mempunyai anak, jadilah kalian anak akhirat jangan menjadi budak dunia, karena sekarang adalah waktu beramal dan tidak ada hisab adapun di akhirat adalah waktu hisab tidak ada waktu untuk beramal.
Anas Radiyallah’anhu berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menggaris beberapa garis, dan berkata: “Ini adalah manusia, ini angan-angannya, dan ini ajalnya, ketika ia sedang berangan tiba-tiba datang kepadanya garis yang lebih dekat” yakni ajal yang selalu meliputi dirinya. Ini merupakan peringatan untuk tidak panjang angan. Dan menganggap sudah dekat waktu datangnya ajal, karena khawatir datang tiba-tiba.
Barangsiapa yang merasa tidak bisa menebak ajal, harus merasa khawatir dalam menunggunya, khawatir datangnya ajal ketika ia lalai dan tertipu oleh dunia. Hendaknya seorang mukmin ridha untuk menggunakan sesuatu yang bisa mengingatkannya dan harus melawan angan dan hawa nafsunya, karena manusia memang dipenuhi angan-angan.
Abdullah bin Umar berkata: “Rasulullah melihatku ketika aku menembok kebun kami, beliau berkata: “Apa ini wahai Abdullah?” aku jawab: “wahai Rasulullah tembok ini telah lemah kami ingin membetulkannya”, beliau bersabda: “urusan lebih dari itu”.
Kita minta kepada Allah agar memberikan kelembutannya kepada kita, menjadikan kita zuhud di dunia, menjadikan keinginan kita adalah yang ada disisi-Nya, dan waktu istirahat kita adalah hari kiamat. Dia adalah Dzat yang Maha Derma Pemurah Pengampun dan Penyayang.
(Diterjemah Abdurahman Mubarak Ata)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.