Hanya Islam

Hanya Islam agama yang haq

Islam adalah nikmat terbesar bagi hamba Allah, dikarenakan Islam adalah:
Satu-satunya agama yang haq disisi Allah
Allah berfirman:
•    
“Sesungguhnya agama yang haq disisi Allah hanyalah Islam” (QS Ali Imran:19)
Dalam ayat yang lain:
             
“Barang siapa yang mengharapkan selain Islam, tidak akan diteria darinya, di akhirat nanti dia akan termasuk orang-orang merugi”(QS Ali Imran:85)
Syaikh Shalih AlFauzan berkata:
Dalam dua ayat ini ada bantahan kepada orang-orang di jaman kita ini, yang menyatakan sesungguhnya tiga agama ini; Yahudiyah,nashraniyah dan Islam semuanya benar, semuanya akan menyampaikan kepada Allah.
Continue reading

Ziarah Kubur

Tuntunan Ziarah kubur

Penyusun

Abu Abdillah
Abdurahman Mubarak Ata

Penerbit Al Mubarak

Daftar Isi

Muqodimah
Almautu haq
Hukum Ziarah kubur
Hukum ziarah kubur bagi wanita
Tata cara ziarah kubur: Ziarah kubur ada tiga macam (Qoulul mufid)
Kemungkaran-kemungkaran dalam pelaksanaan

Hukum Ziarah Kubur

Diantara sunnah Rasulullah adalah ziarah kubur.Rasulullah berkata:
Dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah kalian ke kuburan karena itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat (HR Muslim dari Buraidah bin Hushaib)
Dalam riwayat Abu Daud:
Ziarah kubur akan menambah kebaikan bagi kalian

Ziarah kubur adalah salah satu ibadah yang harus dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah supaya diterima disisi Allah Taala. Oleh karena itu seorang yang hendak menyelamatkan agamanya, hendaknya mempelajari agamanya sampaipun dalam masalah ziarah kubur, karena sekarang ini banyak orang-orang yang terjatuh ke dalam penyimpangan ketika melaksanakan ziarah kubur.

Maksud dan Tujuan ziarah kubur
Maksud dari ziarah kubur adalah dua perkara:
Mendatangkan manfaat bagi yang berziarah dengan mengingat mati dan orang yang telah mati, bahwa tempat kembali mereka ke sorga atau neraka.ini adalah tujuan utama dari ziarah kubur
Manfaat bagi mayit dan berbuat baik kepada mereka dengan mendoakan dan memintakan ampun untuk mereka. Manfaat ini khusus ketika berziarah ke kuburan muslim
(Ahkamul janaiz:239)

Kemudian ketahuilah mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepadaku dan kepada kalian- bahwa ziarah kubur terbagi tiga macam, sebagai berikut:
Ziarah syariah yaitu yang disyariatkan dalam Islam dan memenuhi tiga syarat:
Tidak Melakukan safar dalam berziarah kubur
Dari Abu Said Al Khudri Rasulullah berkata:
Tidak boleh bepergian jauh melakukan safar kecuali ke tiga mesjid: Mejidku ini, Masjidil haram dan masjidil aqsha HR Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah
Tidak mengucapkan ucapan batil
Dari Buraidah Rasulullah berkata:
Aku dulu melarang kalian ziarah kubur (sekarang) ziarahlah kalian ke kuburan Hr Muslim dan Nasai dengan lafadz :
Aku dulu melarang kalian berziarah kubur barang siapa yang ingin ziarah kubur silahkan berziarah dan janganlah kalian mengucapkan hujro
Ucapan Rasulullah: Janganlah kalian hujro
Hujro adalah ucapan keji.
Lihatlah rahimakallah bagaimana Rasulullah melarang kita mengucapkan ucapan keji dan batil ketika ziarah kubur. Ucapan apa yang lebih keji dan lebih batil dari ucapan orang-orang yang meminta-minta kepada mayit dan minta perlindungan kepada mereka
Tidak mengkhususkan waktu tertentu karena tidak ada dalil untuk mengkhususkan waktu tertentu

Ziarah Bidah adalah yang tidak terpenuhi salah satu syarat di atas atau lebih
Ziarah Syirik
Yaitu ziarah kubur yang pelakunya terjatuh kedalam berbagai macam perbuatan kesyirikan kepada Allah.seperti berdoa kepada selain Allah atau menyembelih dengan selain Allah atau nadzar untuk selain Allah
(Dinukil dari Alqaulul mufid Hal:192-194 dengan sedikit perubahan)

Syaikhul Islam berkata:
Ziarah kubur ada dua macam: Syari dan bidah. Ziarah syari jika diniatkan ketika melaksanakannya salam kepada si mayit dan mendoakan kebaikan untuknya sebagaimana yang diniatkan ketika menshalatkan jenazahnya, namun tidak melakukan safar (bepergian jauh) dalam melakukannya. Ziarah bidah adalah jika tujuan orang yang berziarah adalah meminta kebutuhannya kepada simayit, itu adalah syirik besar. Atau berniat untuk berdoa disisi kuburnya atau berdoa bertawasul dengannya, semua perbuatan ini adalah bidah yang munkar dan sarana (penghantar kepada) kesyirikan, (Amalan-amalan tersebut) bukanlah sunnah rasulullah dan tidak pernah dianjurkan oleh seorangpun dari salaf umat ini ataupun para imamnya (Lihat Taudhihul ahkam 3/258)

Perbedaan ziarah kubur muwahid dengan kubury
Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan berbedaan ziarah kubur muwahid dan musyrik.
Adapun ziarah seorang muwahid, maksud ziarah mereka adalah tiga perkara:
Mengingat akhirat, mengambil ibrah dan nasehat nabi shallallahu ‘alaihi wasalam telah mengisyaratkan ini dengan ucapannya:
berziarahlah kalian ke kuburan karena itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat
Bebuat baik kepada mayit (mendoakannya dengan memintakan ampunan dan rahmat bagi penghuni kubur)
Berbuat baik kepada dirinya sendiri, karena dengan ziarah kubur dia menjalankan dan mengamalkan sunnah Rasulullah
Adapun ziarah seorang musyrik asalnya diambil peribadatan kepada patung (yaitu (berdoa kepada penghuni kubur) mengharapkan syafaat dari penghuni kubur sebagaimana orang-orang musyrikin mengharapkan syafaat dari sesembahan mereka)
(Disadur dari Ighatsatul lahafan hal 288-290)

Hukum Ziarah Kubur bagi wanita

Berselisih para ulama tentang hukum ziarah kubur bagi wanita:
Sebagian para ulama menyatakan dilarang
Jumhur ulama menyatakan bolehnya wanita untuk melakukan ziarah kubur
Syaikh Albani menguatkan bolehnya Ziarah kubur bagi wanita dengan beberapa alasan:
Keumuman hadits anjuran Ziarah kubur
Illat (sebab) disyariatkan ziarah kubur:Karena akan melembutkan hati, membuat berlinang air mata dan mengingatkan akhirat juga dibutuhkan kaum wanita
Rukhsah yang diberikan beliau kepada Aisyah rodiyallohuanhu
Beliau melihat seorang wanita sedang menangis dikuburan, tapi beliau tidak melarangnya dikuburan akan tetapi memerintahkannya untuk takut kepada Alloh dan bersabar

Faedah:
Akan tetapi para wanita jangan sering melakukan ziarah kubur.
Syaikh Albani berkata:

Faedah:
Dibolehkan Ziarah kubur seorang yang mati dalam keadaan kafir akan tatapi tidak boleh mendoakannya.

Penyimpangan-Penyimpangan Dalam Pelaksanaan Ziarah Kubur

Syaikhul Islam menjelaskan bahwa pokok kesyirikan kembalinya kepada dua perkara, salah satunya adalah mengagung-agungkan kubur orang shalih.
Beliau berkata:
Kesyirikan bani adam kebanyakan dari dua perkara pokok. Adapun perkara pertama adalah mengagungkan kubur orang shalih dan membuat patung atau gambar-gambar mereka untuk mencari barakah dengannya(Majmu fatawa:17/460)
Diantara penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan ziarah kubur adalah:

1. Meminta kepada penghuni kubur Bertawasul dengan penghuni kubur
Rasulullah adalah ziarah kubur.Rasulullah berkata:
Barang siapa yang ingi berziarah kubur silahkan berziarah namun jangan berkata hujra”
HR Abu Daud
Imam Nawawi berkata:
Alhujru adalah ucapan batil.dulu pada awalnya mereka dilarang berziarah kubur karena masih dekatnya mereka dari masa jahiliyah, dikhawatirkan mereka akan mengucapkan ucapan-ucapan jahiliyah ketika ziarah kubur. Ketika qaidah-qaidah Islam telah mantap dan hukum-hukumnya kokoh dan telah nampa rambu-rambunya, merekapun dibolehkan ziarah kubur, namun rasulullah masih menjaga mereka dengan perkataannya:
Janganlah kalian mengucapkan hujro.
Syaikh Albani berkata:
Tidak diragukan lagi bahwasanya yang dilakukan orang-orang awam dan selain mereka ketika ziarah kubur yaitu berdoa kepada simayit, minta tolong kepada mereka serta meminta kepada Allah dengan hak penghuni kubur (tawasul) adalah ucapan dan perbuatan hujro yang paling besar, wajib atas para ulama menjelaskan hukum Allah kepada mereka dan memberikan pemahaman yang benar kepada mereka tentang ziarah kubur.
(Ahkamul janaiz:227-228)

2. Mengkhususkan waktu tertentu
Telah banyak fatwa para ulama tidak bolehnya mengkhususkan hari ied atau bulan ramadhan dalam rangka ziarah kubur
Ada satu pertanyaan yang ditujukan kepada syaikh Muhamad bin Shalih Utsaimin:
Apa hukum mengkhususkan hari raya Ied dan hari jumat untuk berziarah kubur?
Syaikh Muhamad bin Shalih Utsaimin berkata:
Pengkhususan hari jumat dan hari Ied untuk berziarah kubur tidak ada asalnya didalam sunnah. Mengkhususkan ziarah kubur dihari ied dan meyakini bahwa itu adalah disyriatkan teranggap sebagai perbuatan bidah(kutipan dari fatawa syaikh Ibnu Utsaimin 17/286 pertanyaan no 259)
Diatanyakan pula kepada syaikh Bin Baz: Apa hukum mengkhususkan hari jumat untuk ziarah kubur?
Beliau menjawab:
Hal tersebut tidak ada asalnya dalam syariat, yang disyariatkan adalah berziarah kubur kapanpun waktunya yang mudah bagi yang mau berziarah, malam hari ataupun siang.
Adapun mengkhususkan pagi atau malam tertentu (untuk berziarah) adalah perbuatan bidah yang tidak ada asalnya yang tidak asalnya dalam syariat. Berdasarkan ucapan Rasulullah:
Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami yang bukan darinya maka tertolak dalam riwayat Muslim: Barangsiapa mengamalkan satu amalan yang tidak ada padanya urusan kami maka tertolak(HR Muslim dari Aisyah)
(Fatawa Syaikh Bin Baz:13/336)

3. Membaca alquran
Syaikh Albani berkata: Adapun membaca Al Quran ketika ziarah kubur tidak ada dasarnya (contohnya) dalam sunnah rasulullah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Iqtidha shirotolmustaqim:
Tidak ada ucapan Imam Syafii dalam masalah ini hal ini dikarenakan amalan ini adalah bidah disisi beliau..Imam Malik berkata:aku tidak pernah tahu seorangpun melakukannya.ini menunjukkan bahwa para shahabat dan tabiin tidak melakukannya
(Lihat Ahkamul zanaiz:241-242)

4. Menabur bunga
Syaikh Albani berkata:
Tidak disyariatkan meletakkan asy (sejenis pohon yang memiliki bunga warna putih) dan lainnya berupa wewangian dan bunga-bungaan diatas kuburan, karena tidak pernah dilakukan oleh salaf,kalau seandainya itu hal yang baik niscaya mereka melakukannya.Ibnu Umar radiyallahuanhu berkata: Semua bidah adalah sesat walaupun orang-orang menganggapnya baik (Ahkamul janaiz)

5. Syaddu rihal
Karena Rasulullah pernah berkata:
Tidak boleh melakukan bepergian jauh kecuali ketiga mesjid: mesjidil haram, masjidir rasul dan masjidil aqsha
Syaikh Muhamad Nashirudin Al albani memasukkan diantara bidah ziarah kubur adalah safar untuk berziarah ke kuburan nabi atau shalihin (Ahkamul janaiz Hal 229)

6. Membaca surat Yaasin di kuburan

Syaikh Albani menyebutkannya dalam ahkamul jazaiz termasuk bidah ziarah kubur adalah membacakan yaasin dikuburan (Ahkamul janaiz:225)

Adapun hadits: barang siapa yang masuk pekuburan dan membaca surat Yaasin, Allah akan meringankan mereka dan mereka mendapatkan kebaikan sebanyak yang terdapat dalam surat tersebut
Hadits ini telah disebutkan oleh syaikh Albani dalam silsilah dhaifah (1246)

7. Ikhtilath
Ini adalah perkara yang tidak bisa diingkari terjadinya ikhtilat (bercampur wanita dan pria padahal mereka bukan mahram) padahal rasulullah berkata:
Tidaklah aku tinggalkan fitnah bagi laki-laki yang lebih besar selain wanita (HR Muslim)

Tabaruj wanita
Allah berfirman:
(((((((( ((( ((((((((((( (((( (((((((((( (((((((( ((((((((((((((( ((((((((( (
Dan hendaklah kalian (wahai para wanita) tetap tinggal di rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu(QS Al Ahzab:33)

9. Seringnya wanita ziarah kubur
Seorang wanita memang diboleh berziarah kubur namun mereka tidak boleh sering-sering berziarah kubur. Adapun alasan yang menunjukkan mereka ziarah kubur adalah sebagai berikut:
Keumuman ucapan Rasulullah
Merekapun butuh mengingat akhirat
Nabi memberikan Rukhsah sebagaimana dalam hadits Aisyah
Nabi membiarkan seorang wanita yang sedang dikuburan
Adapun dalil yang menunjukkan mereka tidak boleh sering ziarah kubur karena Rasulullah pernah berkata:
Rasulullah melaknat (dalam lafadz lain:Allah melaknat) wanita yang sering berziarah kubur

10. Safar wanita tanpa mahram
Seorang wanita tidak diperbolehkan melakukan safar sendirian walaupun dalam rangka melaksanakan ibadah.karena Rasulullah berkata:
Dari Ibnu Abbas radiyallohuanhu: Rasululloh shallallohu alaihi wasallam berkata dalam khutbahnya:
Artinya: Janganlah seorang wanita safar kecuali bersama mahramnya, Seorang shahabat berkata: Wahai Rasululloh sesungguhnya istriku hendak pergi menunaikan haji padahal aku telah ditulis hendak berangkat berjihad, Rasululloh shallallohu alaihi wasallam bersabda: Berangkatlah haji bersama istrimu HR Bukhari Muslim

11. Meninggalkan shalat
12. Taubat kepada ahli kubur
13. Haji ke kuburan
14. Minta ijin kepada penghuni kubur

Kemungkaran di kuburan bertingkat-tingkat
Berkata Ibnu Taimiyah:
Perkara-perkara bidah dikuburan bertingkat-tingkat:
Yang paling jauh dari syariat Meminta kebutuhan kepada mayit, minta perlindungan kepada mayit sebagaimana dilakukan banyak orang
Tingkatan kedua: Minta kepada Allah dengan penghuni kubur (tawasul dengan mayit), ini banyak dilakukan oleh orang-orang belakangan.amalan tersebut bidah dengan kesepakatan kaum muslimin
Tingkatan ketiga: menyangka bahwa berdoa disisi kubur mustajab atau lebih afdhal dari pada mesjid, inipun kemungkaran yang bidah berdasarkan kesepakatan muslimin
(Diringkas dari Ighatsatul lahfan:287)

Sebab-sebab terjatuh dalam penyembahan kubur

Jika ditanyakan: Apa yang menyebabkan para penyembah kubur terjatuh dalam perbuatan mereka, padahal mereka tahu bahwa penghuninya orang yang telah mati?
Jawabannya:
Yang telah menjerumuskan mereka beberapa perkara:
Jahil tentang hakikat apa yang dibawa oleh Rasul Muhamad shallallahu ‘alaihi wasalam dan seluruh para rasul
Haditshadits palsu yang dibuat-buat didustakan atas nama Rasulullah.seperti hadits:
Barang siapa yang kesulitan hendaknya minta ke penghuni kubur
Cerita dan kisah dusta yang dijadikan promosi untuk menarik orang datang kekuburan tertentu
Misalnya: ada seseorang beristhighatsah kepada kubur Fulani ketika dia sedang susah maka dipun dapat jalan keluar. Serta berbagai cerita-cerita dusta lainnya
(Lihat Ighatsatul lahfan Karya Ibnul Qayim)

Resensi kitab Ushulussittah

Dalam kitab ini syaikh Muhammad bin Abdulwahab menerangkan enam prinsip yang harus senantiasa ada pada seorang muslim.
Syaikh rahimahullah menerangkan diawal kitab ini bahwa enam masalah ini sebetulnya telah dijelaskan dengan gamblang di dalam Al Qur’an, dengan penjelasan yang bisa dipahami kalangan awam dari kaum muslimin.
Namun ternyata banyak orang- orang cerdas di alam ini salah dalam memahami enam prinsip ini.adapun enam tersebut adalah:
1. menjelaskan makna tauhid dan syirik.Allah telah menjelaskan masalah ini dalam Al Quran dengan penjelasan yang bisa dipahami oleh orang awam yang paling bodoh sekalipun.
namun kemudian syaithan menampakkan tauhid adalah bentuk pelecehan terhadap orang shalih, serta menampakkan perbuatan syirik sebagai bentuk cinta kepada orang shalih.
2. Dalam ushul yang kedua beliau menerangkan bahwasanya Allah telah memerintahkan untuk bersatu dalam agama dan melarang berpecah belah dengan penjelasan yang jelas dan cukup bisa dipahami orang awam sekalipun, namun kemudian justru perpecahan dalam agama dianggap sebagai pokok agama, dianggap sebagai ilmu dan fiikih dalam agama, dan seorang yang menyerukan perrsatuan dalam agama dianggap sebagai zindiq atau orang gila. Continue reading

Resensi kitab Qawaidul Arba’

Diantara karya syaikh Muhammad bin Abdulwahab rahimahullah adalah kitab yang berjudul”Alqawaidul arba'”
Kitab ini sangat baik untuk dibaca, beliau rahimahullah memulai kitabnya dengan menyebutkan tanda-tanda kebahagiaan seorang hamba, yaitu:
Bersyukur ketika mendapatkan nikmat
Bersabar ketika mendapatkan musibah
Beristighfar ketika terjatuh dalam perbuatan dosa

Kemudian beliau menerangkan tentang pentingnya tauhid dan bahaya syirik, bahwa ibadah tidak dikatakan ibadah kecuali dengan diiringi tauhid, sebagaimana shalat tidah sah jika seorang hadats demikian pula ibadah akan rusak jika ada tercampur kesyirikan.

Kaedah pertama yang beliau sebutkan:
Bahwasanya orang-orang musyrikin yang diperangi rasulullah meyakini tauhid rububiyah, bahwasanya Allah adalah pencipta, pengatur alam, namun semata meyakini tauhid rububiyah tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam

Adapun dalam kaedah yang kedua beliau menjelaskan:
Bahwasanya orang-orang musyrikin dulu sama dengan musyirikin sekarang, menyembah orang-orang shaleh dengan alasan mengharapkan syafaat mereka dan mendekatkan mereka kepada Allah

Di kaedah ketiga diterangkan:
Orang-orang musyrikin dulu sama dengan musrikin sekarang, diantara mereka ada yang menyembah malaikat, sebagian mereka ada yang menyembah nabi dan orang shalih, ada juga yang menyembah batu dan pohon

Beliau menutup dengan kaedah keempat:
Musyrikin jaman kita lebih parah dari musyrikin jaman nabi, dari sisi:
Musyrikin jaman nabi perbuatan syirik mereka hanya dalam keadaan senang, adapun musyrikin jaman kita berbuat syirik dalam keadaan senang dan susah
Musyrikin jaman dulu menyembah orang shalih atau benda-benda mati, adapun musyrikin jaman sekarang menyembah orang-orang fasiq bahkan zindiq

Mudah-mudahan resensi ini bisa menggugah pembaca untuk mengkaji kitab ini.

Abu Abdillah Abdurahman Mubarak bin Ata

Jangan Berwala’ kepada orang kafir

Telah dipaparkan dalam tulisan yang lalu, kewajiban bara’ kepada orang kafir.
bara’ kepada mereka yakni membenci dan memusuhi mereka dengan kalbu, bukan dahlim dan berbuat semena-mena kepada mereka.
Syaikh Abdul Aziz Bin Baz berkata:
Alwala wal bara’ maknanya cinta dan loyal kepada mukminin serta membenci dan memusuhi orang kafir, berlepas diri dari mereka dan dari agama mereka, inilah alwala walbara’ sebagaimana Allah sebutkan dalam surat almumtahanah:
دْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَه
“Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Kami berlepas diri dari kalian dan dari sesembahan kalian yang selain Allah, kami ingkar kepada kalian dan telah Nampak antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian selamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja” (QS Almumtahanah:4)
Bukanlah makna membenci dan memusuhi dengan cara mendhalimi dan berbuat semena-mena kepada mereka yang bukan kafir harbi, namun maknanya adalah membenci dan memusuhi mereka dengan kalbumu, tidak menjadikannya sebagai temanmu…
(Majmu fatawa bin Baz jilid 5)

Sebagaimana wajib bara’ kepada orang kafir, maka diharamkan berwala kepada mereka, karena berwala berarti cinta kepada mereka dan ridha dengan kekafiran mereka.
Dalam kesempatan ini kami sebutkan bentuk wala kepada orang kafir yang telah diharamkan dalam Islam
1. Tasyabbuh kepada mereka
Rasulullah bersabda:
Barang siapa yang meniru satu kaum maka termasuk golongan mereka
2. bepergian ke negeri kafir untuk tamasya dan refreshing
Para ulama menjelaskan bahwa haram hukumnya bepergian ke negeri kafir kecuali dalam keadaan darurat-seperti berobat misalnya-, dibolehkan sesuai kebutuhan dan harus segera kembali setelah kepentingannya selesai
3. menjadikan mereka sebagai teman dekat, teman bermusyawarah, dan menjadikannya sebagai pimpinan yang mengurusi rahasia kaum muslimin
Allah Berfirman:
Wahai orang-orang beriman janganlah kalian menjadikan orang kafir sebagai teman dekat kalian
Dalam ayat lain Allah berfirman:
Wahai orang-orang beriman janganlah kalian menjadikan orang yahudi dan nashoro sebagai wali kalian
4. Turut serta dalam perayaan ied mereka, membantu mereka dalam merayakannya, memberikan ucapan selamat kepada mereka
5. Memintakan ampunan dan rahmat untuk mereka

Banggalah dengan Islam, tegakkan Alwala wal bara

Tegakkan Alwala wal Bara

Diantara prinsip yang agung dalam akidah Islam adalah alwala walbara’, alwala wal bara’ adalah prinsip yang terkandung dalam dua kalimat syahadat. Hingga prinsip ini sangat erat dengan masalah akidah.
Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab berkata ketika mendefinisikan Islam:
Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkannya, tunduk kepadaNya dengan mentaatiNya dan berbara’ah (berlepas) dari kesyirikan dan orang-orang berbuat kesyirikan

Syaikh Shalih AlFauzan berkata:
Diantara ushul aqidah islamiyah; wajib atas muslim yang berakidah Islam untuk berwala kepada kaum muslimin dan memusuhi musuh-musuh Islam, cinta dan berwala kepada orang-orang yang bertauhid dan ikhlas, membenci dan membenci para pelaku kesyirikan.(Alwala walbara)

Apakah yang dimaksud dengan alwala wal bara’ karena Allah?
Syaikh Abdul Aziz Bin Baz berkata:
Alwala wal bara’ maknanya cinta dan loyal kepada mukminin serta membenci dan memusuhi orang kafir, berlepas diri dari mereka dan dari agama mereka, inilah alwala walbara’ sebagaimana Allah sebutkan dalam surat almumtahanah:
َدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَه
“Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Kami berlepas diri dari kalian dan dari sesembahan kalian yang selain Allah, kami ingkar kepada kalian dan telah Nampak antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian selamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja” (QS Almumtahanah:4)
Bukanlah makna membenci dan memusuhi dengan cara mendhalimi dan berbuat semena-mena kepada mereka yang bukan kafir harbi, namun maknanya adalah membenci dan memusuhi mereka dengan kalbumu, tidak menjadikannya sebagai temanmu…
(Majmu fatawa bin Baz jilid 5)
Continue reading

Syarhus sunnah Albarbahary

Ketahuilah Islam adalah sunnah dan sunnah adalah Islam, tidak akan tegak salah satunya kecuali bersama yang lain.

Diantara perkara sunnah adalah terus bersama jama’ah, barang siapa yang membenci Aljama’ah dan berpisah darinya maka dia telah melepas ikatan Islam dari lehernya dan dia dia menjadi sesat menyesatkan.

Pondasi yang dibangun diatasnya Aljama’ah adalah para shahabat nabi Muhamad shalallahualaihi wasallam, merekalah ahlussunnah waljama’ah.barang siapa yang tidak mengambil dari mereka telah sesat dan melakukan kebidahan, semua bidah adalah sesat dan kesesatan beserta pelakunya di neraka

Berkata Umar bin Khattab: “Tidak ada udzur (alasan) bagi seorang dalam melakukan kesesatan yang dia anggap sebagai petunjuk, juga tidak ada udzur baginya ketika meninggalkan petunjuk karena menyangkanya sebuah kesesatan.Dikarenakan perkara-perkara (syariat) telah dijelaskan, hujah-hujah telah ditetapkan, hingga telah terputus udzur, karena Assunnah dan aljamaah telah memantapkan semua perkara agama dan telah jelas bagi manusia, maka kewajiban manusia adalah alittiba’ (mengikutinya).

Ketahuilah rahimakallah, Agama hanyalah datang dari Allah, tidak diletakkan pada akal-akal dan pendapat manusia.Ilmunya hanya dari Allah dan rasulNya, maka jangan kau mengikuti sesuatu dengan hawa nafsumu nanti engkau akan lepas dari agama dan keluar dari Islam, karena tidak ada lagi alasan bagimu, karena Rasulullah telah menjelaskan sunnah kepada umatnya dan menerangkan kepada para shahabatnya merekalah aljama’ah, merekalah assawul a’dham, assawadul a’dham adalah alhaq dan para pengikutnya, barang siapa yang menyelisihi para shahabat rasulullah dalam perkara agama ini walau sedikit maka telah terjatuh dalam kekufuran

Ketahuilah, bahwasanya tidaklah manusian mengada-adakan kebidahan kecuali akan mereka akan meninggalkan perkara sunnah yang semisalnya, maka jauhilah perkara-perkara baru dalam agama, karena semua perkara baru dalam agama adalah bidah, dan semua bidah dan pelakunya di neraka

Hindarilah perkara-perkara bidah walaupun kecil, karena bidah yang kecil itu akan berulang dan menjadi besar, demikianlah semua bidah di umat ini semuanya berawal kecil menyerupai alhaq hingga tertipulah orang yang masuk dalam kebidahan tersebutkemudian tidak mampu keluar darinya akhirnya jadilah bidah tersebut seperti agama yang seorang beragama dengannya yang menyelisihi sirathalmustaqim, akhirnya ia pun keluar dari Islam.

Lihatlah rahimakallah, (lihatlah) semua orang yang kamu dengar ucapannya dari orang-orang di masamu secara khsusu, jangan terburu-buru masuk dalam satu perkara sampai kamu bertanya dan melihat apakah telah salah shahabat menyatakan demikian atau apakah ada seorang dari ulama berkata demikian, bila engkau mendapatkan satu atsar dari mereka maka berpegang teguhlah dengannya, jangan kau lewatkan karena perkara lain dan jangan memilih sesuatu diatasnya sesuatu, karena jika demikian kamu akan di neraka”

Bersambung…….
(Diterjemah oleh Abdurahman Mubarak Ata)

Akibat Buruk Maksiat

Ketahuilah, maksiat memiliki pengaruh yang jelek, bermudharat bagi kalbu dan badan, di dunia dan akhirat, tidak ada yang tahu berapa banyak akibat buruk maksiat kecuali Allah Ta’ala.
Diantara akibat buruk maksiat adalah:
1. Terhalang dari ilmu
Ilmu adalah cahaya yang berikan dalam kalbu, adapun maksiat adalah perkara yang akan memadamkan cahaya.
Ketika Imam Syafi’i Syafi’i duduk belajar di hadapan Imam Malik dan membaca ilmu kepadanya, Imam Malik kagum akan kecerdikan, kecerdasan dan sempurnanya pemaham Syafi’i, maka Imam Malik berkata:
“Aku melihat Allah telah memberikan cahaya di hatimu, janganlah kau padamkan dengan maksiat”.
Imam Syafi’i berkata:
Aku pernah mengadu kepada waqi’ akan jeleknya hafalanku
Maka beliau membimbingku untuk meninggalkan maksiat
Beliau berkata: “Ketahuilah bahwasanya ilmu adalah karunia
Dan karunia dari Allahbtak akan diberikan kepada seorang yang maksiat”

2. Terhalang dari rezeki
Sebagaimana takwa kepada Allah akan mendatangkan rezeki, maka meninggalkan takwa mendatangkan kefaqiran

3. Keterasingan yang dirasakan oleh seorang yang berbuat maksiat antara dia dengan Allah, walau seluruh kelezatan dunia terkumpul semuanya tetap tak akan bisa mengalahkan rasa keterasingan ini.namun tentunya hal seperti ini hanya dirasa oleh orang-orang yang kalbunya hidup.kata pepatah:
“Melukai seorang yg telah mati tak akan menyakitinya”

4. Keterasingan yang dia rasakan diantara manusia sekitarnya, terutama dengan orang-orang yang baik.dia akan merasakan asing dari orang-orang baik, semakin kuat rasa keterasingan ini menyebabkan dia semakin jauh dari orang baik, hingga dia terhalang dari barokah mengambil ilmu dan kebaikan dari mereka, dan justru semakin dekat dengan hizbu syaithan

5. Mendapatkan kesulitan-kesulitan dalam urusannya

Bersambung ….
(Dinukil, diringkas dan diterjemah oleh Abdurahman Mubarak Ata dari kitab “Addau waddawau” karya Ibnul Qayyim rahimahullah)

Hadits-hadits tambahan Arbai’n dari Ibnu Rajab (43-50)

TAMBAHAN DARI
IBNU RAJAB

HADITS KEEMPAT PULUH TIGA

عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم: “أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا، فَمَا أَبْقَتِ الفَرَائِضُ، فَلأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ”. رواه البخاري ومسلم.
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berikanlah warisan kepada orang yang berhak. Jika masih ada tersisa, maka diberikan kepada laki-laki yang paling utama (paling dekat dengan mayit)”

HADITS KEEMPAT PULUH EMPAT

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “الرَّضَاعَةُ تُحَرِّمُ مَا تُحَرِّمُ الْوِلاَدَةُ”. رواه البخاري ومسلم.
Dari Aisyah Radhiallahu ‘anha Dari nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Susuan bisa mengharamkan seperti halnya kelahiran”

HADITS KEEMPAT PULUH LIMA

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّهِ أَنّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم عَامَ الْفَتْحِ وَهُوَ بِمَكَّةَ يَقُولُ: “إنّ اللّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ” فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ، فَإِنَّهُ يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ، وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ، وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النّاسُ؟ قَالَ: “لاَ. هُوَ حَرَامٌ” ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ ذَلِكَ: “قَاتَلَ اللّهُ الْيَهُودَ، إنَّ اللّهَ حَرَّمَ عَلَيْهِمُ الشُّحُومَ، فأَجْمَلُوهُ، ثُمَّ بَاعُوهُ، فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ”. رواه البخاري ومسلم.
Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata di Mekkah ketika tahun Fathu Mekkah: “Sesungguhnya Allah dan RasulNya telah mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi dan berhala”.
Dikatakan kepada beliau: Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang lemak bangkai karena perahu-perahu telah dilumuri dengannya, diminyaki dengannya pula kulit (yang mau disamak) dan manusia menjadikannya untuk minyak lentera ?”
Rasulullah berkata: “Tidak, menjual lemak bangkai itu haram”.
Kemudian beliau berkata: “Allah memerangi Yahudi, sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas mereka lemak bangkai kemudian mereka cairkan serta mereka jual dan mereka memakan hasil penjualannya”

HADITS KEEMPAT PULUH ENAM

عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عن أبيه أَبِي مُوسى الأَشعَريِّ أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَهُ إِلَى اليَمَنِ، فسأَلَهُ عَن أَشربةٍ تُصنَعُ بِها، فقال:”وَمَا هِيَ؟” قَالَ: البِتْعُ وَالمِرْزُ، فقِيلَ لأبي بُردَةَ: وما البِتْعُ؟ قال: نَبيذُ العسل، والمِرْزُ نْبيذُ الشَّعير، فقال:”كُلُّ مُسكرٍ حَرامٌ”. رواه البخاري ومسلم.
Dari Abu Burdah dari bapaknya yakni Abu Musa Al Asy’ary Radhiallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya ke Yaman dan bertanya kepadanya tentang minuman yang dibuat di Yaman.
Beliau bertanya: “Apa itu? “
Abu Musa berkata: “al Bit’u dan al Mizru”.
Ditanyakan kepada Abu Musa: “Apa itu al Bit’u?”
Beliau jawab: “Saripati madu adapun al Mizru adalah saripati gandum”.
Maka Rasulullah berkata: “Semua yang memabukkan adalah haram”

HADITS KEEMPAT PULUH TUJUH

عَنِ المِقْدَامِ بنِ مَعدِ يَكْرِب قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: “مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعاءً شَرًا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابنِ آدَمَ أَكَلاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لا مَحَالَةَ، فَثُلثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ”. رواه الترمذي.
Dari Miqdam bin Ma’di Karib Radhiallahu ‘anhu: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidaklah seorang anak adam memenuhi satu tempat yang lebih jelek dari (memenuhi) perutnya.
Cukuplah bagi anak adam makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya, jika harus (lebih dari itu) maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya”

HADITS KEEMPAT PULUH DELAPAN

عَنْ عَبْدِاللهِ بن عمرٍو رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا {خَالِصًا}، وَإِنْ كَانَتْ خَصْلةٌ مِنْهُنَّ فِيهِ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ “. رواه ومسلم.
Dari Abdullah bin Amr Radhiallahu ‘anhu dari nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Empat perkara, barangsiapa yang ada padanya keempat perkara tersebut maka ia munafiq tulen, jika ada padanya satu diantara perangai tersebut berarti ada padanya satu perangai kenifakan sampai meninggalkannya: (1)Yaitu seorang jika bicara dusta, (2)jika membuat janji tidak menepatinya, (3)jika berselisih melampui batas dan (4)jika melakukan perjanjian mengkhianatinya”

HADITS KEEMPAT PULUH SEMBILAN

عَنْ عُمرَ بنِ الخَطَّابِ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “لَوْ أنَّكُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيرَ، تَغدُو خِمَاصًا، وَتَرُوحُ بِطَانًا”. . رواه الترمذي.
Dari Umar bin Khaththab Radhiallahu ‘anhu Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana memberi rezeki kepada burung. Keluar di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang

HADITS KELIMA PULUH

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيْنَا، فَبَابٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ جَامِعٌ؟ قَالَ: “لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ”. رواه أحمد.
Dari Abdullah bin Busr: Datang seorang laki-laki kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam itu terasa banyak bagiku, maka (ajarilah aku) satu bab (ilmu) yang aku akan berpegang teguh dengannya?.
Rasulullah menjawab: Hendaknya lisanmu terus menerus berdzikir kepada Allah”
(Diterjemah oleh Abdurahman Mubarak Ata)

Syarah Arba’in (42)

HADITS KEEMPAT PULUH DUA

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَالَ تَعَالَى: يَاابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَادَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِيْ، يَاابْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ. يَاابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَتُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً. رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Allah ‘Azza wajalla berfirman: “Wahai Ibnu Adam selama engkau berdo’a dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni dosamu walau bagaimanapun (besarnya) Aku tidak peduli.
Wahai Ibnu Adam kalau dosamu mencapai puncak bumi kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni.
Wahai Ibnu Adam jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh bumi tapi engkau berjumpa kepada-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik niscaya akan Aku berikan ampunan semisalnya” (HR. Tirmidzi beliau berkata: Hadits Hasan Shahih) .

Syarah:
Dalam hadits ini terdapat kabar yang agung, pemaafan dan kemurahan yang agung, serta berbagai macam karunia, kebaikan, kasing sayang dan anugerah yang tidak terhitung, hadits ini seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
لله أَفْرَح بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ بِضَالَّتِهِ لَوْ وَجَدَهَا
“Allah lebih merasa gembira dengan taubatnya seorang hamba dari gembiranya salah seorang kalian yang dapat menemukan kambali binatangnya yang hilang”.

Dari Abu Ayyub Radiyallahu’anhu ketika beliau menjelang sakaratul maut: “Aku telah menyembunyikan atas kalian satu hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah:
لَوْلاَ أَنَّكُمْ تذْنبُوْنَ لِخَلْقِ اللهِ خَلْقًا يذْنبُوْنَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
“Kalaulah kalian tidak berdosa niscaya Allah akan menciptakan makhluk yang menggantikan kalian dan kemudian mereka berbuat dosa kemudian Allah mengampuni dosa mereka” dan banyak lagi hadits yang semakna dengan hadits ini.
Perkataan dalam hadits: “Wahai Ibnu Adam selama engkau berdo’a dan berharap kepada-Ku” hadits ini sesuai dengan sabda Rasulullah:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ فَلِيَظُنّ بِيْ مَا شَاءَ
“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku silahkan mereka mempunyai sangkaan semau mereka”, telah ada riwayat bahwasanya seorang hamba apabila berdosa kemudian menyesal dengan berkata: “Wahai Rabb aku melakukan dosa ampunilah aku, tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau, maka Allah berfirman: “Hamba-Ku telah tahu bahwa dia punya Rabb yang mengampuni dosa, mengadzab karena dosa, Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuninya, kemudian hamba tersebut melakukan dosa yang kedua ketiga dan Allah berfirman sama dengan yang pertama, kemudian berfirman: “Amalkanlah apa yang engkau kehendaki sungguh Aku telah mengampuni kalian”, yakni apabila berbuat dosa kemudian beristighfar.
Ketahuilah taubat mempunyai tiga syarat: Pertama: berhenti dari perbuatan maksiatnya, Kedua: menyesal atas apa yang ia sia-siakan, Ketiga: berazam untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Apabila dosanya berkaitan dengan haq hamba maka ia harus menunaikan haq saudaranya dan minta dihalalkan. Kalau dosanya antara ia dengan Allah tapi ada kifarat maka hendaknya ia melaksanakan kifarat, ini adalah syarat keempat. Kalau seorang hamba melaksanakan tiap harinya seperti ini dan bertaubat dengan syarat-syarat lainnya karena Allah, sungguh Allah akan mengampuninya.
Perkataan dalam hadits: “Walau bagaimanapun” yakni walau berulang kali engkau melakukan maksiat, perkataan dalam hadits: “aku tidak peduli” yakni aku tidak peduli dengan dosamu.
Perkataan dalam hadits: “Wahai Ibnu Adam kalau dosamu mencapai puncak bumi kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni” yakni kalau dosa berupa benda yang memenuhi bumi dan langit, ini adalah puncak banyaknya dosa akan tetapi karena kemurahan dan kebijakan Allah serta pemaafannya yang lebih besar dan agung, tidak ada diantara keduanya kesesuaian dan tidak ada kemuliaan yang lain, maka hancurlah dosa alam di sisi kebijakan dan pemaafan Allah Subhanahu wata’ala.
Perkataan dalam hadits: “Wahai Ibnu Adam jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh bumi tapi engkau berjumpa kepadaku dalam keadaan tidak berbuat syirik niscaya akan Aku berikan ampunan semisalnya” yakni datang kepada-Ku dengan dosa hampir sepenuh bumi.
Perkataan dalam hadits: “Kemudian bertemu dengan-Ku” yakni engkau mati dalam keadaan beriman tidak berbuat syirik kepada Allah. Tidak ada ketenangan bagi seorang mukmin selain bertemu dengan Rabbnya, Allah telah berfirman:
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَآءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيْمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan akan mengampuni dosa yang selainnya bagi orang yang dikehendaki” (An Nisa: 48), dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Tidaklah seorang hamba dianggap terus menerus melakukan dosa jika beristighfar walau dalam sehari melakukan dosa sembilan puluh kali”, Abu Hurairah berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Baik sangka kepada Allah termasuk ibadah kepada Allah yang paling baik”.
(Diterjemah oleh Abdurahman Mubarak Ata)